
Senin, 06 Februari 2023
Candramawa

Rabu, 18 April 2018
H U J A N

Hujan mengingatkanku pada engkau
Pada sekelumit warna-warna terang di antara mega,
Kau selalu disana, membentangkan tanganmu lebar-lebar dibawah rinai hujan
Menyunggingkan senyum tipis dari bibirmu yang merah jambu
Hujan pagi ini membuatku terkenang
Pada gerimis pagi di bulan january
Hari itu hujan tak lagi terasa indah, titik cair yang turun perlahan seperti bisu
membuat gigil ketika tersentuh
Kau diam.
Tangan kita saling mengenggam, entah apa yang kau coba genggam
mungkinkah kau mencoba mempertahankan sebuah cerita?
cerita yang harus selesai padahal kita belum menginginkannya?
Entahlah, yang jelas gerimis pagi ini, kau tak ada disana
Kutelusuri bulir air yang mengalir perlahan, sebelum menghentak jatuh ke tanah
melesak dan membawa seribu kisah
Suatu ketika, kami pernah saling jatuh cinta
Senin, 07 Maret 2011
Tentang Daun Bambu
PS : i owe the picture from him
Jumat, 11 Februari 2011
Kepada Sang Bintang....
Apa yang membuatmu tidak bahagia hari ini?
Ku lihat hari ini kau begitu jauh, tertutup oleh kabut yang berpusar dalam pikiranmu. Seolah kau berada pada dimensi yang berbeda dengan bumi yang kupijak saat ini, meskipun kita berada di ruangan yang sama. Memijak permadani merah yang mewah dan kertas dinding cokelat tua.
Kau bintangnya, kau tau itu. Tidak ada panggung cahaya yang tak hidup ketika kau berada disana. Selalu seseorang yang sama, kau dengan dandanan rapi dan senyum cemerlang.
Namun hari ini kau berbeda. Meskipun yang berdiri di depanku adalah orang yang sama. Masih seperti yang kemarin, sang bintang panggung cahaya, dengan senyum pura-pura.
Apa yang membuatmu tidak bahagia hari ini?
Duduklah disini, kudengarkan kau bercerita.
Meskipun aku tak pernah berteman dengan cahaya dan musik kaya irama, tak juga bisa berkata-kata dengan penuh gaya,
Aku hanya disini, berdiri sebagai sahabat, dengan sebuah tangan yang ku ulurkan,
Hanya ingin agar kau paham, kau bukan tak berkawan.
Kamis, 02 Desember 2010
Saya [yang mencintai hujan dan langit biru], Ingat??
Lagi-lagi hujan turun tanpa diminta. Menepias di tembok-tembok kaca, menjadikannya kabur dan berkabut, sebagian turun sembarang di pelataran, sebagian menggantung resah di tepian kanopi jendela.
Saya suka hujan. Suka dinginnya yang membuat beku ujung-ujung jari. Pada air yang menitik di lipatan jaket tipis berwarna biru laut, pada sepatu kets usang coklat tua yang penuh dengan bercak tanah basah.
Tak ada yang menandingi kehebatan bermain dibawah hujan dan berakhir dengan tidur berselimut tebal disamping secangkir cokelat hangat tanpa gula. Memimpikan kenangan yang dibawanya turun satu per satu.....
Masih gadis yang sama, yang menghitung hujan diawal desember. Bersandar pada kaca jendela diujung ruangan, dengan teh susu hangat pada sebelah tangan.
Masih gadis yang sama, yang merasa hujan, susu vanilla hangat dan modul catatan jurnal accounting adalah hal yang sama, sama-sama menyenangkan sekaligus memusingkan.
Masih gadis yang sama, yang terus membicarakan mimpi negeri dongengnya, sepasti dia mempercayai matahari akan terbit setiap pagi.
Dan jika kamu masih tidak mengenalnya, saya hanya ingin berkata, bahwa dia masih gadis yang sama, yang mencintai hujan dan langit biru. Dan jangan pernah berani coba-coba untuk lupa.
NB : untuk mereka, yang bilang hampir tidak mengenali "saya yang 4 bulan terakhir ini". Masih saya kog :)
Me,

Rabu, 01 September 2010
Sssstt....
Ssstt...malam semakin larut. Diamlah. Diam.
Diam dan duduklah disini dekat-dekat. Temani aku melihat malam.
Malam dengan segala kemegahan yang tersembunyi di dalamnya, disimpan rapat-rapat oleh selubung jubah tidur hitam para peri langit. Tak kasat oleh mata mereka yang hanya silau oleh cahaya, terbiasa oleh kicauan burung pagi dan rumput teki yang mati terik.
Dengarkan dengan jelas, suara-suara jangkrik pemalu yang belajar bernyanyi, dan tarian katak-katak periang penjaga kerlip bintang biru.
Dan bunga-bunga bakung itu? Kau tak tau, mereka pandai bercerita, tentang dongeng-dongeng tua kolam gelagah. Cerita asal muasal negeri para peri yang membangun jalan dari bintang-bintang biru. Oh ya, setiap bintang itu punya nama dan cerita. Akan dipaparkannya satu-satu jika kau tak terlalu malu bertanya.
Ada lagi, tuan labah-labah. Kami terbiasa memanggilnya tukang sulam. Memang agak sedikit dingin dan pendiam, kadang-kadang jika hujan turun dia berubah sedikit murung. Sebenarnya dia tidak sedingin itu, jika pekerjaan menyulamnya tidak terlalu banyak, dia akan turun menghias panggung malam dengan jelaga warna pelangi. Oh dia tidak menyanyi tentu saja. Dia bahkan tidak bersuara selama dia bekerja, menyulam, menisik dan merekat.
Aku selalu menyukainya. Diam dan mendengarkan malam. Kutunggu hingga bulan beranjak dari duduknya, berjingkat-jingkat dengan sepatu berlumpurnya untuk membangunkan matahari.
Berganti menjaga hari.
Selasa, 13 Juli 2010
Bebas.
Rabu, 16 Juni 2010
Selalu
Selalu,
pagi datang membawa sebuah rasa yang tak dapat diurai oleh waktu. Menembus berjuta-juta dimensi yang mencoba menyeruak masuk meski hanya sedetik untuk sekedar menunjukkan keeksistensian mereka di bumi yang penuh sesak dengan beragam harmoni yang tak habis didendangkan oleh alam.
Kau coba tanyakan pada daun nyiur di pinggir pantai itu, pada pohon-pohon perdu layu, pada debu semen abu-abu yang melayang rendah di jalanan mati, pada asap mengepul yang keluar dari corong dian rumah berbilik bambu. Tanyakan pada mereka lakon apa yang mereka mainkan setiap pagi ketika matahari masih bernafas satu satu, ketika titik embun masih bergelayut genit pada pucuk-pucuk delima?
Pernah kau dengar serangga yang mati meranggas diantara batang-batang padi? Ironisnya beberapa belahan bumi ini justru mempercayai bahwa batang-batang padi itulah yang melambangkan hidup. Kau tak akan tau kawan, mengapa serangga itu mati pada kubangan harta manusia, sama halnya ketika kau bertanya kepada Sang Maha, mengapa bahkan asap dian yang merayap keluar diam-diam dari bilik bambu tak punya hak mencium wangi bunga rumput di halaman gedung-gedung berpilar angkuh.
Selalu,
Seperti itu,
Manusia lahir, hidup, menua dan lalu mati. Merasa, melihat, mencecap dan mengenal setiap arti dari sebuah nafas. Diawali oleh sebuah pagi yang lain, yang datang membawa rasa berbeda, yang tetap tak dapat diurai oleh waktu.
Kamis, 15 April 2010
Disini Tidak Ada Hujan yang Turun di Bulan April.
Anggaplah saya membohongimu,
Anggaplah kau ini seorang pengkhayal ulung yang bermimpi di siang terik.
Hei, dengarkan aku!
Harus berapa kali saya berkata : Disini tidak ada hujan di bulan april.
Bahkan katak-katak yang biasa menarikan tarian pemanggil hujan pun sudah terhenti,
lebih memilih berendam di air kolam yang dingin, berteduh dibawah lapisan daun-daun teratai
Sudahlah...
Mengapa kau masih berdiri disana?
Membawa-bawa belanga dan berharap menampung air hujan yang turun?
Sudah saya katakan, disini, tidak ada air hujan yang menetes turun di bulan April.
PS : dan jika kau bertanya mengapa? jawabannya adalah : anggap saja Tuhanmu itu sedang memberikan bonus tahunan kepada para pedagang es ;)
Jumat, 19 Maret 2010
Au revoir
Saya, adalah penonton dari sebuah kisah yang sudah berjuta-juta detik melintas di depan mata. Seorang penonton yang duduk di deretan kursi paling depan, yang bertepuk paling kuat, yang tersenyum paling lebar,dan yang keluar paling terakhir untuk masih duduk ditempat dimana seharusnya saya beranjak bermenit-menit lalu hanya untuk merasakan efek semu dari rasa hampa dan kecewa, karena akhir dari cerita yang kamu mainkan, tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan.
Saya, mungkin adalah pengkhayal ulung kesepian yang duduk dibawah jembatan batu di sore yang jingga. memancing di sungai yang separuh kering dan mengharap boneka kayu disampingnya berubah manusia.
Berapa lama saya mengenalmu?
Berapa ratus hari? berapa juta detik?
Sampai akhirnya saya tersadar kamu bukan orang itu. Yang ditakdirkan untuk menghabiskan sisa umurmu dengan saya, sedih atau senang. sakit atau sehat. bukan kamu.
Kenyataan itu menghentak begitu keras dan saya terjatuh begitu hebat. Terhempas ke dasar jurang batu. Sakit keluhku. Tak kau dengar.
Lama saya terdiam dan akhirnya saya menemukan titik temu dari benang merah kusut yang terpintal dibawah sadarku.
Kamu ada sosok nyata yang diam-diam saya selipkan dalam hati, beserta sebuah rasa yang kutumbuhkan untuk menemanimu disana. entahlah kata mereka itu cinta. tapi apapun sebutannya bagiku itu cukuplah.
Sampai suatu hari, rasa itu bertumbuh menjadi monster rakus yang memintamu menjadi milikku. Nyata. Bukan sebuah sosok absurd yang saya angan-angankan dalam lamun.
Tapi kamu pergi.
Dan efek itu kembali muncul, akhir cerita yang menitipkan kecewa, sepi dan lagi-lagi terjatuh yang hebat.
Maka hari ini, saya ingin memberitahumu bahwa saya selesai.
Apa yang tersisa untuk saya lakukan hanyalah mempersilahkanmu kembali masuk kehati saya, berhenti menjadi pelakon dari cerita yang mengecewakan itu, dan duduklah diam dalam kotak yang saya simpan baik-baik bernama kenangan.
Dan jika suatu hari kita bertemu lagi,
ingatkan aku.....
Suatu ketika aku pernah mencintaimu.
Rabu, 17 Februari 2010
Pembual Ulung

Pada dimensi mana aku mencari-cari, pada dimensi keberapa juga tak kutemukan.
Aku ini lelah!
Aku ini marah!
Kau bilang akan kutemukan di lautan timur, padahal sudah kucari sampai ke hutan barat.
Tetap tak ada!
Yang kutemukan hanyalah seekor anjing tua, mengais-ngais mencari lubang untuk menguburkan dirinya sendiri jika dia mati. Aku berniat membantunya, tapi dia menolak dan menjawabku "Lebih baik kau pun mencari tanahmu, bergegaslah sebelum petang. Karena kulihat kau pun sendiri".
Yang kutemukan hanyalah kepingan sayap kunang-kunang jelek dan coklat, hewan malang penghuni nisan dan ilalang pekuburan.
Yang kutemukan hanyalah aku.
Tak ada kau. Bahkan apa yang kau janjikan akan kutemukan. Tak ada kalian!
Dasar pembual!
Rabu, 09 Desember 2009
But i don't.

Aku akan pergi, kamu tau?
Aku akan pergi begitu jauh hingga nanti kamu tidak lagi bisa menemukan dimana aku ada.
Dan nanti namaku hanya akan menjadi sebuah kenangan yang lamat-lamat dibisikkan angin sore.
Bercampur dengan aroma serbuk bunga lonceng
Aku akan meninggalkanmu.
Karena cinta yang kau tawarkan kemarin, hari ini, lusa dan katamu mungkin selama-lamanya itu,
sudah melarut karena sakit yang dibawa mentari,
menghilang bersama awan yang membungkusnya dan meluruhkannya sebagai hujan.
Ya sayang, hujan.
Bukan lagi cinta.
------
Piglet : How do you spell LOVE?
Pooh : you don't spell it. You feel it
------
PS : but i don't.
Sabtu, 24 Oktober 2009
Ah...cinta.
Kamis, 10 September 2009
Pangeran untuk Cinderella
it's hard when you know you shouldn't hold on
and yet you are too in love to let go
......

Baginya, kamu selalu adalah gadis bergaun putih yang menentang hujan di sore september, dengan jepit rambut merah muda berbentuk hati dan senyuman polos tak peduli.
Baginya kamu selalu seperti tokoh wanita dalam buku-buku dongeng balita.
Bisa kau lihat dia berjengit ketika kau meneriakkan "damn it" waktu kukumu terjepit daun pintu,
dan ketika keringat membasahi wajahmu, menetes mengotori jaket jeans kumal yang sering kau gunakan ketika cuaca panas, ia menjauh. Enggan memeluk.
Dia tak bisa mengerti, bahwa kamu tak selalu menjadi gadis manis bergaun putih yang ditemuinya senja itu,
bahwa terkadang hidup mengharuskanmu memakai jeans kumal, karena gaun akan menghambat larimu.
Dan hari ini kamu menangis di depanku. menangisi apa yang kalian sebut cinta, yang keburu menghilang ketika disadarinya kamu bukan puteri dongeng andalusia.
"Dia pergi." Suaramu rapuh. Air matamu jatuh pada secangkir teh berwarna emas. Secangkir teh hangat yang terlanjur dingin ketika hari bahkan belum separuh siang.
"Biarlah. Toh kau tak bisa terus-terusan menjadi puteri dongengnya" jawabku.
"Aku merasa seperti cinderella", isakmu. "Waktu pertama kali dia melihatku, akulah si cantik di matanya, sebelum akhirnya tengah malam tiba dan aku harus kembali menentang nasib, menjadi upik abu. Lama ku tunggu tak juga ia datang mencocokkan sepatu kaca."
...................................................................
......................................................
.....................................
...............
"berarti, bukan dia pangerannya...."
Selasa, 25 Agustus 2009
Tentang Sebuah Ayunan Tua

When I was small, and christmas trees were tall,
We used to love while others used to play.
Dont ask me why, but time has passed us by,
Some one else moved in from far away....
Kamu sangat suka bercerita, ketika matahari sudah tinggi dan awan-awan mulai berkumpul untuk mendengarkan kisahmu. Kisahmu tentang dia, dan cerita cinta ketika rumput-rumput dipadang masih hijau. Ketika harapan masih tinggi dan ketika sepasang tangan itu masih bergandengan erat di tepi kolam teratai, bermain ayunan sambil berbagi permen kapas. Dan janji yang terlalu muluk tentang pernikahan dan pangeran tampan.
Dulu...
The apple tree that grew for you and me,
I watched the apples falling one by one.
And I recall the moment of them all,
The day I kissed your cheek and you were mine..
Dan ketika rumput dipadang semakin tinggi, dan ayunan sudah terlalu tua untuk dimainkan, dia mengajakmu mengitari padang sunyi, menghitung domba dan memetik bunga matahari. Menjilati es krim yang meleleh di tangan, tertiup angin yang ringan melabai. Hingga akhirnya petang datang menjemput senja dan angin malam berlomba-lomba meniup gelap.
Berpisah dalam dekapan kecil dan ciuman lengket beraroma gulali di pipi.
When I was small, and christmas trees were tall,
Sepenggal kisah indah yang selalu dinanti, pertalian yang manis tanpa embel-embel curiga dan trik khas orang dewasa, hidup yang hanya untuk daun-daun pakis, gelembung sabun dan permen gulali. Kisah tentang ayunan tua dan kolam berbunga teratai. Kecemasan waktu itu hanyalah jika nanti senja datang dan harus menunggu esok untuk saling menggenggam tangan. sederhana dan putih. Terlalu putih bahkan.
Tapi sayangnya, yang selalu kamu katakan sambil tersenyum kecil "itu bukan cinta.........."
dan cerita itu harus berakhir di senja yang jingga, pada langit agustus yang hangat.
Dont ask me why, but time has passed us by.....
Song : First of May by Susan Wong.
Senin, 24 Agustus 2009
Seharusnya Hujan Tak Datang
Apalah artinya aku bagimu? hanya sebaris nama di kolom yang tak terbaca, dikertas yang tertempel entah di mana, di daftar yang terlupakan.
-enno-
Pagi ini ketika aku membuka mata, kutemukan awan gelap menggelayut di sudut-sudut langit. Cemberut dan memberengut.
"Ah, akan hujan" pikirku.
Dan ketika membuka jendela, kulihat angin bertiup cepat-cepat, berlari bergegas-gegas membawa kabar kepada alam, bahwa lagi-lagi peri hujan akan datang membawa pesan dari langit, tentang rindunya pada bumi.
Aku bersenandung kecil, menghirup coklat panas dan mengigit setangkup roti dibalik jendela yang terbuka lebar, mencoba menghibur embun pagi yang lagi-lagi merasa terlalu cemburu kepada hujan.
"Aku tak terlihat. Aku hanyalah kabut tipis, jatuh pada kelopak bunga, batu-batu dingin, rumput yang layu, pagar-pagar reyot dan batu-batu nisan pekuburan. Tak seperti hujan yang dapat membuat manusia terhenti ketika ia tiba." Keluhnya panjang lebar
"Well, setidaknya kau datang menyapa setiap pagi. Dan hujan ? dia tak terlalu sering datang. Hanya kadang kala, jika langit tidak terlalu sibuk memintal awan dan sungai belum meluap terlalu tinggi." Jawabku
"Tahukah kau, bulan ini seharusnya hujan tidak turun…."
bagaimana harus mengatakannya? mengatakan bahwa alam pernah membisikkan kepadaku, tentang cintanya kepada langit dan ribuan benang perak yang dikirimkannya sebagai lagu cinta.
Aku diam.
Embun diam.
Pagi hening.
....... dan hujanpun luruh.

Sabtu, 25 Juli 2009
Catatan Si Rumput Hijau
Dua puluh lima juli dua ribu sembilan.
Angin pagi ini terlalu dingin. Menyengat kulit. Membuat sakit.
Bahkan mentari sekalipun tak berani menentangnya.
Sengaja meredupkan sinarnya untuk mengalah.
Ntahlah terserah kau menyebutnya pengecut ataukah pengertian. Kami tak peduli.
Bukankah kalian manusia, yang selalu memiliki pemikiran negatifmu yang mulia?
Angin pagi ini sedang marah. Kecewa pada hujan. Kecewa pada alam.
Segenap semesta sedang berkabung baginya.
Dengarlah, tak ada suara burung bernyanyi, dan tuan tupai pun malas bekerja.
Bunga kecil di tepi sungai sudah menggulung dirinya rapat-rapat dalam selimut warna warninya yang hangat.
Hanya kami disini, menemani angin yang bergulung-gulung marah. Mencabik apapun yang ada didepannya dengan kebekuan.
Ya. Hanya kami disini. Mentari yang redup. Awan kelabu. Angin yang marah. Oh ya dan jangan lupakan saya, si rumput hijau yang perlahan menjadi kecoklatan karena terlalu lelah menentang alam.
lalu manusia, di mana kalian? dan kau simpan kemana pemikiran briliantmu yang luar biasa?
PS : Tulisan ini dibuat untuk para pembakar ladang di kalimantan yang ngebuat kota ini jadi asli berasap banget, hujan yang datang separo hati dengan bau asap yang kental, ngebuat angin jadi dinginnnya amit-amit dan matahari yang separo ilang tertutup kabut. Guys...save the world ya, keep it green. Kalo kata Michael Jackson make a better place for us
Sabtu, 25 April 2009
Biru Terang dan Hijau Pekat

Kata orang inilah hidup, dan segala sesuatu yang berputar didalamnya merupakan efek essential seperti ketika engkau sedang mengocok bulir bahagia dan air mata didalam botol kaca, cairannya biru terang, terkadang hijau pekat.
Aku tak tahu apakah aku sedang menuju kesana, kepada terang yang berpendar ataukah kepada pekat yang terasa seperti badai es yang menggulung, memenuhi udara dengan rasa marah dan angkuh yang memuakkan.
Tapi bukankah lebih baik berjalan maju daripada bertahan diatas onggokan duri yang tajam dan menusuk, lagipula siapa yang bisa berjalan mundur?
Mana kutahu. Jangan menanyaiku. Aku sama tak taunya denganmu.
Ntahlah apa yang kau jumpai di depan sana, apakah cahaya biru berpendar, atau masihkan kepekatan yang lebih gelap menjeratmu di depan.
Lagi-lagi kata orang, inilah hidup dan segala sesuatu yang berputar didalamnya merupakan efek essentialnya. Kocoklah, leburkan jadi satu, nanti kita lihat apa warnanya.
Jangan lupa sajikan dengan anggun didalam gelas kaca dengan tambahan berry hitam diatasnya. Agar setiap orang yang melihatnya dapat mengatakan, biru ataupun hijau, kau telah berhasil memadukannya dengan begitu indah.
PS : Tulisan ini dibuat ketika gw amat sangat tertarik akan minuman cantik bergelas tinggi di sebuah cafe. Belakangan gw tau, ternyata itulah minuman bernama martini. Hmmm... pengen ngerasa
Selasa, 14 April 2009
Bolehkah jika hanya aku ??
Kata yang selalu kau sanggah ketika aku mengucapkannya sebagai pembuka perbincangan yang sedikit demi sedikit menggoreskan parut dihati.
Kau bilang bukan aku, tapi kita.
Ya. Kita.
Lalu kemana saja kamu, ketika saya sendiri membuka selapis demi selapis awan abu-abu yang menutup pelangi di penghujung sore itu?
Apakah memang kita yang membeku menghitung bulir hujan yang jatuh pada bangku kayu disudut taman, membandingkan beningnya dengan air mata yang menetes di sepatu kets usang?
Kamukah itu... ? dengan payung merah jambu, mengatakan tidak apa-apa dan menjemputku pulang ketika jalanan mulai berkabut dan jiwaku hilang?
Ya. mungkin memang kita.
Dulu memang kita.
Sekarang biarlah saya memulainya lagi dengan aku.
Hanya aku.
Bolehkah ??
Kamis, 12 Maret 2009
-Nada Pagi-
saat mentari membelah gelap di ufuk timur,
saat pedal gas diinjak dalam-dalam,
saat angin dan embun menembus melewati kaca-kaca jendela,
memberi kesan dingin dan basah.
Aku sangat suka pagi...
memperhatikan manusia berpacu dengan waktu.
Kecipak air, mata sembab, kopi hangat, rumput basah, anak-anak kecil yang berlarian ke sekolah dan para pekerja pagi yang menyesap rokok perlahan, seolah dapat memperlambat damai sebelum hilang seluruhnya ditelan realita.
Ah..pagi,
awan tipis, tanah basah dan kehidupan diantaranya selalu memberiku sebuah harmoni yang mendendangkan nada, kemudian bertaut menjadi sebuah irama.
nanti.
akan kunyanyikan untukmu suatu hari...
...on the way to Ngarak, 9th march 2009
Weekend kemaren gw ama temen-temen gereja ada seminar guru-guru sekolah minggu di Anjungan dalam, detailnya bisa dibaca disini and foto-fotonya, bisa di liat di facebook gw eta_classic@yahoo.com jadi di add aja yak khawand

God bless all









