Hari ini hujan turun. Hujan pertama di bulan january, menggantung pada tepi kanopi berenda putih di cafe seberang jalan itu. Sisanya menghempas ke daun jendela, mengukir titik - titik bening itu menjadi sebuah lukisan abstrak tak berwarna.
Dibelakang lukisan abstrak inilah saya duduk sendiri, memandangi kanopi, hujan, dan sebuat pesawat kertas yang tergeletak di atas aspal. Lusuh dan rapuh terendam genangan air dijalanan. Pesawat itu pasti sudah terjatuh dengan keras, dan ditelantarkan oleh pemiliknya dengan seenaknya. Sebelah sayapnya sudah robek, dan badan belakangnya terinjak-injak oleh orang yang berlalu lalang.
Sama halnya dengan seseorang disini. hari ini dia terjatuh dengan keras, terbanting dari mimpi yang dianggapnya bukan maya. Karena ternyata selama ini dia seperti pesawat kertas di jalanan beraspal itu, tidak menemukan tempatnya berpijak setelah terbang terlalu tinggi dan akhirnya hari ini, dia terbanting begitu saja. Jatuh kebawah.
Maka disinilah dia hari ini, sedikit lusuh tentu. Tapi tidak rapuh, dan dia memiliki sayap yang tak pernah robek. Hanya perlu sedikit waktu, untuk duduk ditepi jendela, memandangi hujan yang menggelantun, dan secangkir cokelat mengepul. Dan saya yakin, dia akan baik-baik saja.
Me,

