Tampilkan postingan dengan label Sad and Happy in a bowl. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sad and Happy in a bowl. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Something about blue







He likes blue sky,
His sky was me
Then someday i realize, that i'm not his sky anymore
And i'm feeling so blue at the moment
.....


Suddenly remember this quote from Christian Simamora.
One of my favorite book. Lost it when i moved to our new house five years ago.
*Sigh*


Senin, 10 Juni 2013

Maret





Ben, tahun ini sepertinya maret datang terlambat.

Rupanya, batang-batang jagung itu tumbuh belum terlalu tinggi ketika saya datang.Dan pula, tanah masih belum begitu kering. Disinilah kita bermain dulu menangkap capung dan mengejar angin.
Siapa yang sangka, hari ini saya bisa begitu merindukan hari itu.
Merindukan kamu yang selalu memarahi saya yang datang terlambat, padahal katamu, kau sudah berteriak memanggil namaku berulang kali dari atas pohon jambu di depan rumahku.
"Anak perempuan memang begitu sih, lelet. Suka terlambat". Rajukmu selalu.

Dulu, kamu pintar sekali membuatkan mahkota dari lilitan ilalang di tepi jalan. Katamu itu adalah tiara. Dan kalau kita menikah nanti, tiara itu akan kamu gantikan yang asli. Kataku aku mau yang terbuat dari giok dan batu zamrud.
"Yang besaaaaar ya Ben" pintaku.
"Ya, nanti aku belikan yang besar".
Ben, sadarkah kamu dulu kita belum lagi genap sebelas tahun? Betapa polos dan naifnya kita.

Ben, siapa yang sangka, hari ini kita kembali berdiri berhadapan.
Kamu dengan kemeja dan jas rapi. Saya, dengan gaun kembang putih dan tiara. Kali ini tiara sungguhan Ben, meskipun bukan terbuat dari giok dan batu zamrud besar. Sebuah buket mawar putih di tangan, bukan lagi ilalang.
Kamu dan aku berdiri berhadapan, pada sisi yang berseberangan, dengan hati jumpalitan.
Dan demi sepotong masa lalu yang kembali membias, saya tersenyum.

"Siapa yang sangka kamu menikah duluan. Dulu katanya kamu mau tunggu aku?" Kelakarmu.
Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum. Lidahku tiba-tiba terasa kelu.
Dulu saya memang menunggu Ben. Cukup lama. Karena katamu kau pasti pulang, ketika ayahmu dipindahkan ke kota lain dan kalian ikut-ikutan diboyong pergi.
Lalu kemudian keadaan berubah Ben, kita menjadi dewasa. Dan janjimu, kemudian hanya bisa saya simpan rapat-rapat di sudut-sudut kotak pandora saya.

"Selamat ya. Yang bahagia, hidup bahagia sampai tua. Kawan masa kecilku yang cantik" katamu. Kemudian kau jabat tanganku. Lama.

Ya. Hidup yang bahagia juga ya Ben, sampai tua. Seperti janji kita dulu.
Sayangnya kali ini, adalah hidup yang akan kita jalani sendiri-sendiri.
Bukan lagi hidup kita.
Tapi hidup saya.
Hidup kamu.

Maaf Ben,
Untuk janji yang terlewati.
Karena mungkin kali ini, waktu sudah mulai menua,
Dan janji itu sudah habis umurnya.
Atau mungkin kali ini, kamulah yang datang terlambat.




Jumat, 26 April 2013

Tuhan punya cerita : Teori Amanda


"Dua enem emang tanggal sial nih, kalo ada musibah, jatoh-jatohnya pasti di tanggal ini deh".

Kalimat diatas tadi hadiah dari temen saya, Amanda. Anaknya lucu, agak chubby dan hobby banget makan.
"Apa maksudnya tuh Man? jadi saya musibah donk"
"eh..eh.. hahahahaha...ngga maksud jujur ding" Amanda mesem.

Percakapan diatas dimulai pukul delapan lewat tiga puluh menit. Saya dan beberapa temen lainnya baru aja pulang dari kantor.
What a hetic day, masih dengan baju kantor lengkap, muka keringetan, rambut lepek dan muka capek meskipun cakep *teteuuup*
Hari ini tanggal 26. Tanggal keramat, semua hal buruk terjadi pada tanggal 26, begitu teori Amanda.
Tsunami, ustad Jeffry yang meninggal, kebakaran hebat di tengah kota, meninggalnya anak nasabah kami yang luar biasa humble (i'm sorry for your lost Pak Yan), dan tak tertinggal hari lahir saya.
*tsaaahhh*

Pagi ini saya terbangun oleh bunyi pesan singkat yang masuk berjejalan di handphone saya. Bangun pagi dengan limbung, saya mandi tanpa curiga.
Cuaca bagus, mood bagus. Tidak ada tanda-tanda ada bencana.
Nyampe di kantor kerjaan menumpuk, dikejar sampai gempor juga gak selesai-selesai. Jadwal test yang direncanakan akhir bulan depan dimajukan sampai pertengahan bulan. Jadilah orang-orang kantor, supervisor dan atasan sibuk wara wiri nyari info, kita dijadwalkan latihan setiap weekend sampai hari test tiba.
Sorenya setelah kerjaan hampir beres, eeehhh black out. Seluruh kota seperti kota mati, listrik padam, dimana-mana gelap. Jadilah kita yang bertitle anak kos ria semuanya pada numpuk di kantor nunggu listrik nyala.
Lama ditunggu-tunggu, chattingan masuk, temen saya punya temen, ngabarin ada kebakaran hebat di jalan protokol kota. Dan hebohlah Diana, teman sekantor saya yang notabene punya toko mas di jalan protokol tersebut. Singkat cerita pergilah kami beramai-ramai nganterin Diana buat ngecek tokonya, apakah terbakar, apakah tidak. Apakah Diana harus beli ruko baru? apakah Diana menghibahkan semua perhiasan di tokonya buat kami? dan apakah-apakah yang lainnya.
Sampai di ujung jalan masuk, kami dihentikan oleh polisi ganteng. Jalan ditutup demi keamanan. Diana separo histeris, pengen liat keadaan ruko, dan keluarganya yang tinggal disitu.
Kami berbalik haluan, nyari jalan tikus. Api berkobar hebat, mustahil untuk dipadamkan, sedangkan di deretan ruko yagn terbakar ada gudang gas LPG. Dan jika api menyebar sampai kesitu, yaahh...wasallam.
Sepanjang jalan saya mulai berdoa, "Tuhan turunkanlah hujan".

Kemudian kami berhasil mendapat info, rukonya Diana aman, histerisnya Diana yang ala-ala drama queen ngga guna, api jauhnya masih 8 ruko dari titik kebakaran. Jadilah kami semua ramai-ramai di daulat Diana untuk makan nasi goreng. Ini ceritanya habis gelap terbitlah terang.
Makan dan cerita berakhir pukul 9 lewat banyak. Saya anter Diana pulang, dan langit mulai mendung. Ditengah perjalanan, hujan turun deras, dan saya lupa membawa mantel. What a great sense of humor He has. Seolah-olah Tuhan saya sedang berkata "bukannya tadi kamu minta Saya nurunin hujan?".

Dan disinilah saya, jam 11 malam, mengetikkan setiap huruf di depan komputer dengan badan sedikit demam, listrik yang hidup-padam, kota yang sunyi dan lelah luar biasa.
For Christ's sake, today is my birthday (--")..
Haaatchhhiii...


 
But, i'm happy  *guilty* :)




Kamis, 23 Juni 2011

Day 4 - Kepada Si Preman Pasar



Saya sudah lupa, kapan terakhir kali kami jalan keluar berdua, sekedar hang out atau makan pizza paket delight yang murah meriah di senin malam yang melelahkan.
Saya sudah lupa, kapan terakhir kali dia mendengarkan saya bercerita, kapan ketika tiba-tiba pikiran saya menolak mempercayainya untuk menyimpan rahasia-rahasia saya, begitu juga sebaliknya dengan dia.
Saya sudah lupa, kapan terakhir kali kami mengkhawatirkan hal yang sama, kapan terakhir kali kami menertawakan dan menangisi hal yang sama.
Satu hal yang saya ingat darinya, adalah bahwa dia pernah mengajarkan kepada saya bahwa saya tidak bisa menyimpan orang yang saya sayangi dekat dengan saya selamanya. Bahwa suatu hari mereka akan pergi, menjalani jalan mereka masing-masing. Tapi, saya tidak pernah berpikir salah satu dari mereka adalah dia.
Karena saya merindukan caranya mengajarkan saya menjadi pribadi yang tegar, sebab baginya hidup itu keras. Dan saya merindukan cara dia memarahi saya ketika saya gagal, karena dulu saya cengeng.
Karena saya merindukan malam-malam ketika dia harus menjemput saya pulang kuliah, dengan kaos oblongnya yang kebesaran dan mp3 saya yang dipalaknya secara paksa.
Karena saya merindukan gayanya ketika mengejek saya “tuan putri” ketika saya berumur tujuh belas hanya karena saya senang memakai rok dan baju berenda, meskipun dulu saya menganggapnya sangat menyebalkan.
Karena saya merindukan ekspresinya ketika dia bimbang dan caranya bertanya “menurut kamu....”
Karena saya merindukan preman pasar kesayangan saya.
Karena saya merindukan Nie. Bukan mamanya June. Bukan juga istrinya Frets Mamondole.
Karena saya merindukan Nie. Cece kesayangan saya.
Itu saja.
Jadi, jangan berjalan sendiri. Kita jalani saja sama-sama, seperti dulu. Bisa kan?


Saya,

Jumat, 11 Februari 2011

Kepada Sang Bintang....


Apa yang membuatmu tidak bahagia hari ini?
Ku lihat hari ini kau begitu jauh, tertutup oleh kabut yang berpusar dalam pikiranmu. Seolah kau berada pada dimensi yang berbeda dengan bumi yang kupijak saat ini, meskipun kita berada di ruangan yang sama. Memijak permadani merah yang mewah dan kertas dinding cokelat tua.
Kau bintangnya, kau tau itu. Tidak ada panggung cahaya yang tak hidup ketika kau berada disana. Selalu seseorang yang sama, kau dengan dandanan rapi dan senyum cemerlang.

Namun hari ini kau berbeda. Meskipun yang berdiri di depanku adalah orang yang sama. Masih seperti yang kemarin, sang bintang panggung cahaya, dengan senyum pura-pura.
Apa yang membuatmu tidak bahagia hari ini?
Duduklah disini, kudengarkan kau bercerita.
Meskipun aku tak pernah berteman dengan cahaya dan musik kaya irama, tak juga bisa berkata-kata dengan penuh gaya,
Aku hanya disini, berdiri sebagai sahabat, dengan sebuah tangan yang ku ulurkan,
Hanya ingin agar kau paham, kau bukan tak berkawan.




Minggu, 26 September 2010

Earphones In, Volume Up, Ignore the World !





Hello there...i'm back! i'm back!
Rasanya udah dari jaman batu sejak terakhir gw nulisin sesuatu disini. Dan ketika gw mulai mengetikkan huruf pertama disini, gw baru menyadari, damn! gw benci banget ama yang namanya audit-auditan. Kebayang ngga sih malem minggu kita kerja ampe jam delapan malem. Dan hari ini, minggu 27 September 2010, gw harus balik lagi ke kantor buat ngurusin berkas-berkas ngga penting ini. Shit.

Gw mulai berasa tua, mulai berasa ngga se-gaol dulu lageh karena masa muda gw yang gilang gemilang ini hilang tertumpuk kertas-kertas kerja (merasa kan boleh ya). Gw ngga tau kalo ternyata Jakarta udah mau tenggelam, ngga tau kalo ternyata ada tayangan IMB di trans TV dan ngga tau kalo ternyata Raffi Ahmad belum putus ama Yuni Shara (emang penting gituh?)
Dan parahnya lagi, kamar gw udah hancur minah, hasil ngga pernah dibereskan selama berminggu-minggu karena gw cuma numpang tidur doank. Ampe anaknya si Nie bakalan nangis kejer kalo digendong masuk ke kamar gw. Menurut hematnya si Nie, emang wajar kalo anak bayi ngga mau masuk ke kamar gw soalnya kamar gw udah kayak bekas sisa perang saudara di Beirut, penuh hawa ke-sengsaraan.

Oh ngomong-ngomong soal si Nie, banyak temen-temen yang nanyain kabarnya. For your information my dear friend, si Nie baik-baik aja, badannya ngga sekonyong-koyong menggendut akibat hamil anaknya yang berbadan kecil tapi seberat anak gajah. masih cungkring-cungkring ngga penting aja gitu dia.
Foto anaknya bakalan gw upload kalo gw udah dapet waktu buat ngaso-ngaso di cafe hotspot, soalnya di kantor yang segede gambreng ini, ngga ada satu flashdisc pun yang bisa berfungsi dengan baik kalo di colokin ke komputer (what the F). Si Nie sekarang masih kerja, di salah satu bank disini. Dan semenjak saat itu, dia berubah menjadi spesies mengerikan yang suka nawar-nawarin orang buat bikin kartu kredit dan nge-deposit di banknya demi mengejar bonus tahunan seiprit dengan dandanan berlebih (ckckckck what a life).

Dan kalo soal kerjaan?....
Hmmm gw kurang bisa mengartikan perasaan gw ketika gw kerja disini. Bisa dibilang seneng, karena kata emak gw, gw sering nyanyi-nyanyi sendiri begitu gw pulang kerja. Kemungkinan besar juga iya karena di kantor gw hilir mudik sering nangkep penampakan cowo cakep gaya oke yang kerja di front officce *ketawa setan*.
Tapi dibilang ngga terlalu happy juga iya, karena gw selalu pulang kerja malem-malem dan curhat ngga tentu arah sama si tuan muda yang hanya merespon dengan jawaban irit mendekati pelit : "e..hmm?!".
Belakangan gw juga beli dua jilid buku "my stupid boss" demi mengurangi keluh kesah gw dan belajar bersyukur karena bukan gw aja yang merasa menjadi pekerja paling sengsara sejagad.

Tapi diantara berbagai hal yang ngebuat gw mengelus dada belakangan ini, adek bungsu gw-lah yang layak menerima piala kemenangan "the trouble maker" versi The Pontianak Post.
Belakangan gw baru tau ternyata pada kelas ke tujuhnya, dia udah pacaran dengan dua cowo dan putus dalam kurun waktu beberapa hari, pulang sekolah jam delapan malem dengan alasan ikut ekskul paskibraka tapi ketangkep jalan di mall (makan es krim sambil cekikikan) dengan temen-temen cewenya yang sama-sama berponi rata ala dora dan berkalung manik-manik plastik warna warni. Dan permintaan terakhirnya yang hampir membuat gw terjungkal dari meja makan pagi ini adalah minta dibelikan bra beneran karena ngga mau lagi pake miniset, yang gw amini dengan syarat asal dia jangan keseringan muter lagunya Justin Bieber kalo gw lagi dirumah (jeritan "baby..baby..baby uuuhhh"nya bikin sakit telinga).

Yaah demikian breaking news dari gw sementara. Gw lanjutin lagi kapan-kapan (kemungkinan besar gw baru bisa ngeblog lagi di awal bulan). Bye guys.



Regards,



Senin, 24 Mei 2010

Dari Balik Jendela

 


* Once, i was seriously, deeply in love with one person,
   He gave me a possibility of happiness,
   I wait around, i ask when the future going to happen,

   .....and he just gave me a kiss.

Kumbang musim panas. Begitu saya menamakannya. Saya tidak tau namanya, tidak juga berniat mencari tau. Binatang kecil bersayap yang sering terbang di antara batang-batang padi muda, sedikit berdengung dan bertampang jelek, dengan ukuran bola mata yang tidak sinkron dengan ukuran kepalanya. Begitu musim hujan datang, mereka langsung tidak tampak. Bersembunyi entah di lubang pohon mana, bahkan saya ragu apakah mereka bersarang di lubang-lubang pohon.
Tapi baguslah, ternyata mereka cukup kebal dengan sinar matahari. Sengatan panasnya tidak terlalu kuat untuk membakar sayap tipis mereka yang rapuh. Dan jadilah mereka disana, berbulan-bulan menjadi teman saya, menjadi penonton tetap tentang sebuah cerita musim panas.
Dan dari sinilah cerita kita dimulai .....

Cerita sebuah jendela, yang selalu terbuka di sudut jalan itu. Dan pandangan mata sayu yang menatap ke ujung belokan. Menunggu entah apa. Menunggu sesuatu. Selalu begitu.
Dan kami pun duduk disana, ikut menunggu. Duduk diantara semak bunga matahari, tidak ingin melewatkan satu menitpun.
Pagi yang hening. Matahari yang bersahabat. Malam yang hangat. Terlewatkan begitu saja
Hanya itu yang terlihat, mata yang menunggu dengan tidak sabar dibalik gorden putih dan ujung belokan yang tetap hening.
Sehari....
Seminggu...
Bahkan berminggu-minggu....
Langit mulai mendung, angin mulai berat, membawa titik-titik hujan yang menyapu debu mati yang beterbangan di jalanan gersang. 
Dan sepasang mata itu terpejam, merasakan bisik-bisik angin yang membujuknya berhenti, dua bulir bening menjadikan matanya anak sungai, mengawali hujan yang turun gerimis, sore itu.
"Ceritanya sudah selesai. Aku akan pulang, hujan mulai turun" Kumbang mengibaskan sayapnya, bersiap-siap pergi. "Kau tau teman, itulah proses anak manusia belajar"
 "Proses belajar?" tanyaku, mengibaskan sisa remah-remah roti dan berdiri.
"Yah..kami menyebutnya : melepaskan". Dan dia terbang, hilang ditelan langit sore dan gerimis yang menyapa setitik demi setitik.

Jendela itu tertutup, di selimuti gorden putih. Dan gadis itu menghilang bersamanya, tak lagi menunggu sesuatu itu, yang saya masih tak tau entah apa.
Saya beranjak pergi, melompati genangan kecil yang dijadikan hujan.
Hey kumbang, kami pun menyebutnya : melepaskan.....


* Happy, i cried. Because of your hand,
   It promised to take me forward.
   Sad, i cried. Because of my hand,
   It cannot find the future that you were talking about...




* good tears,bad tears - vivian hsu




Sabtu, 20 Februari 2010

Cinta Kacang Rebus












Ada yang bilang, mencintai itu sederhana. Sangat sangat sederhana.
Ada lagi yang bilang mencintai itu lebih rumit dari komplikasi penyakit liver, ginjal dan jantung, patah tulang iga plus kantong kempes dijadiin satu.

Saya ingat dulu, satu-satunya anggota keluarga yang paling akrab dengan saya adalah papa. Dulu papa saya adalah seorang supir truk yang muda dan sederhana. Setiap sore sepulang kerja, kadang jika cuaca sedang bagus, dia akan mengajak saya memutari alun-alun kota, berdua, dengan truknya yang berbunyi seperti genset. Dan saya akan pulang dengan menenteng sebuah balon hijau sambil bernyanyi-nyanyi senang. Ya, ironisnya sewaktu kecil saya sangat tergila-gila dengan balon berwarna hijau. Bukan merah mudajelir
Ada suatu hari, waktu kami sedang memutari alun-alun papa membelikan saya sebuah permen raksasa, warnanya merah muda dan langsung hilang ketika sampai di mulut.
"enaaaaaak sekali".
Begitu ceritaku pada mama waktu itu, dan mama sambil tersenyum berkata : "kog ngga dibawa pulang buat mama? gak sayang yah sama mama?"
Dan saya ingat, hari itu saya tertidur dengan hati yang super sedih, hanya karena merasa bersalah dan kasihan tidak membagi permen raksasa itu dengan mama.

Beberapa hari kemudian, ketika kami lagi lagi kembali ke alun-alun, papa membelikan saya kacang rebus seharga lma ratus rupiah, dibungkus kertas koran yang dilipat menyerupai kerucut.
Kaacang rebus itu saya sisakan separuh, saya bawa pulang untuk mama. Papa hanya bisa tertawa
"habiskan saja, lain kali kita belikan buat mama" begitu katanya.
Tapi saya keras kepala. Waktu itu, bagi saya kacang rebus yang sudah tinggal separuh itulah bukti cinta saya untuk mama.
Ya sesederhana itu.


Sekarang, ketika menuliskan ini, saya sudah mengerti. Semakin dewasa seseorang, semakin kompleks peraaan yang dimilikinya dan semakin besar tanggung jawab akan perasaan itu sendiri.
Tadi saya habis bertengkar dengan mama tentang permintaannya, yang tidak dapat saya penuhi? atau saya tidak ingin? dan ketika dia berbalik keluar dari kamar pagi tadi, seiring dengan air mata saya yang terjatuh satu-satu. Saya mengerti bahwa saat ini separuh sisa kacang rebus saja sudah tak cukup.
Ternyata, mencintai tidak sesederhana itu ya jelir


Senin, 14 Desember 2009

Dear Santa,


















Well, kelamaan nulisin tentang sesuatu yang menye'-menye' ngebuat gw lupa bahwa ini udah bulan Desember.

Desember selalu identik dengan curah hujannya yang tinggi, hiasan merah, hijau dan putih, dan gambar kakek-kakek gendut berkimono merah, berjanggut putih dengan kereta rusanya dimana-mana, belum lagi terompet dan segala jenis kado-kadoan yang hanya muncul setahun sekali.
Gw sangat suka dengan atmosfir natal. Wangi kue-kue hangat yang baru selesai di panggang saat hari hujan, suara koor yang berkumandang dari setiap gereja yang terlewat , lagu silent night dan feliz navidad yang diputar di radio, bazaar murah, hiasan pohon-pohon natal. Oh well, betapa gw kangen hari-hari seperti ini.


Tahun ini gw ngga ngajar nari, ngga ikut dalam koor apapun di gereja, ngga sibuk nyiapin dan ngehias gaun-gaun kembang yang akan dipake buat tari-tarian. Belakangan gw ngerasa terlalu sibuk dengan diri gw sendiri sampai akhirnya persiapan natal tahun ini terlewatkan begitu saja.
Pagi ini gw baca blognya Hannah dan nemuin bukan cuma gw sendiri ternyata yang ngerasa agak-agak feeling blue akhir taun ini.
Ada beberapa masalah yang berputar-putar dikepala gw, dan stuck disana tanpa jalan keluar yang jelas.
Dan lagi sudah dua hari berturut-turut gw bertengkar dengan si tuan muda lagi-lagi karena satu permasalahan yang sama. Entah gw yang terlalu banyak menuntut dari dia ato emang dia yang keterlaluan ama gw, gw juga ngga ngerti.
Somehow ada rasanya gw pengen pergi jauh-jauh dimana ngga ada satu orangpun yang kenal ama gw dan ngerayain natal gw sendirian. Tapi kemudian gw pikir lagi, apa dengan begitu gw bisa lebih happy?
Sayangnya, pertanyaan ini juga ngga bisa gw temukan jawabannya.

-----


"Aku tak tau Jacob, aku tak tau akan jadi seperti apa nantinya. Aku hanya merasa semuanya akan berakhir baik. Mungkin inilah apa yang aku namakan....iman."

-Breaking Dawn, Stephenie Meyer-




Sabtu, 10 Oktober 2009

Tentang Dia [....saat kemarau datang]


Mari sini, mendekatlah kepadaku.

Akan kuceritakan sebuah kisah,

Tentang tanah yang mulai merasa jatuh cinta kepada hujan,

Saat kemarau datang

............





Kamis, 10 September 2009

Pangeran untuk Cinderella




it's hard when you know you shouldn't hold on
and yet you are too in love to let go
......





Baginya, kamu selalu adalah gadis bergaun putih yang menentang hujan di sore september, dengan jepit rambut merah muda berbentuk hati dan senyuman polos tak peduli.
Baginya kamu selalu seperti tokoh wanita dalam buku-buku dongeng balita.
Bisa kau lihat dia berjengit ketika kau meneriakkan "damn it" waktu kukumu terjepit daun pintu,
dan ketika keringat membasahi wajahmu, menetes mengotori jaket jeans kumal yang sering kau gunakan ketika cuaca panas, ia menjauh. Enggan memeluk.
Dia tak bisa mengerti, bahwa kamu tak selalu menjadi gadis manis bergaun putih yang ditemuinya senja itu,
bahwa terkadang hidup mengharuskanmu memakai jeans kumal, karena gaun akan menghambat larimu.

Dan hari ini kamu menangis di depanku. menangisi apa yang kalian sebut cinta, yang keburu menghilang ketika disadarinya kamu bukan puteri dongeng andalusia.

"Dia pergi." Suaramu rapuh. Air matamu jatuh pada secangkir teh berwarna emas. Secangkir teh hangat yang terlanjur dingin ketika hari bahkan belum separuh siang.

"Biarlah. Toh kau tak bisa terus-terusan menjadi puteri dongengnya" jawabku.

"Aku merasa seperti cinderella", isakmu. "Waktu pertama kali dia melihatku, akulah si cantik di matanya, sebelum akhirnya tengah malam tiba dan aku harus kembali menentang nasib, menjadi upik abu. Lama ku tunggu tak juga ia datang mencocokkan sepatu kaca."

...................................................................

......................................................

.....................................

...............






"berarti, bukan dia pangerannya...."





Selasa, 25 Agustus 2009

Tentang Sebuah Ayunan Tua



When I was small, and christmas trees were tall,
We used to love while others used to play.
Dont ask me why, but time has passed us by,

Some one else moved in from far away....



Kamu sangat suka bercerita, ketika matahari sudah tinggi dan awan-awan mulai berkumpul untuk mendengarkan kisahmu. Kisahmu tentang dia, dan cerita cinta ketika rumput-rumput dipadang masih hijau. Ketika harapan masih tinggi dan ketika sepasang tangan itu masih bergandengan erat di tepi kolam teratai, bermain ayunan sambil berbagi permen kapas. Dan janji yang terlalu muluk tentang pernikahan dan pangeran tampan.
Dulu...


The apple tree that grew for you and me,
I watched the apples falling one by one.

And I recall the moment of them all,
The day I kissed your cheek and you were mine..




Dan ketika rumput dipadang semakin tinggi, dan ayunan sudah terlalu tua untuk dimainkan, dia mengajakmu mengitari padang sunyi, menghitung domba dan memetik bunga matahari. Menjilati es krim yang meleleh di tangan, tertiup angin yang ringan melabai. Hingga akhirnya petang datang menjemput senja dan angin malam berlomba-lomba meniup gelap.
Berpisah dalam dekapan kecil dan ciuman lengket beraroma gulali di pipi.


When I was small, and christmas trees were tall,


Sepenggal kisah indah yang selalu dinanti, pertalian yang manis tanpa embel-embel curiga dan trik khas orang dewasa, hidup yang hanya untuk daun-daun pakis, gelembung sabun dan permen gulali. Kisah tentang ayunan tua dan kolam berbunga teratai. Kecemasan waktu itu hanyalah jika nanti senja datang dan harus menunggu esok untuk saling menggenggam tangan. sederhana dan putih. Terlalu putih bahkan.
Tapi sayangnya, yang selalu kamu katakan sambil tersenyum kecil "itu bukan cinta.........."
dan cerita itu harus berakhir di senja yang jingga, pada langit agustus yang hangat.


Dont ask me why, but time has passed us by.....



itu bukan cinta.....




Song : First of May by Susan Wong.




Rabu, 05 Agustus 2009

"Kamu, sudah makan belum?"

Beberapa waktu yang lalu, ada seorang yang menyodorkan pertanyaan ini kepada saya :
"Tha kog nulisnya tentang mama mulu, emang papanya kemana?"


Ayah, Bapak, Daddy, Abah, atau apapun kalian menyebutnya. Saya memanggilnya papa. Dan jarang sekali mengucapkannya. Bukan karena tidak ingin, tapi karena jarang sekali memiliki kesempatan melafalkan kata itu untuknya.
Dia jarang mengangkat telepon, apalagi menelepon. Sangat jarang saya kunjungi, karena mengunjunginya harus membuat janji dari jauh-jauh hari, itu pun jika saya beruntung dia tidak membatalkannya pada hari H, karena ada pertemuan dengan rekanan bisnisnya yang beruntung itu jelir.
Papa yang saya kenal [bahkan saya sendiri ragu apakah saya mengenalnya], tidak pernah memandang mata saya ketika berbicara. Bukan karena perceraiannya dengan mama yang membuat jarak kami menjadi renggang, tapi ayahku itu memang sosok yang dingin dan sedikit cuek terhadap sekitarnya kalo tidak mau dibilang angkuh.
Dan ketika bertemu anaknya yang mewarisi sikapnya yang "berharga-diri-tinggi" dan berkepala batu ini, maka dia akan siap dengan muka datar tanpa ekspresi (yang saya sering tirukan dengan baik jika saya sedang marah) dan kedinginan yang semakin berlipat-lipat ganda. Seperti gunung es yang tidak terjamah.

Percakapan yang bisa saya ingat dengannya sejauh ini adalah membahas tentang pembagian dividen perusahaannya, kapalnya, tongkang yang berniat di belinya, dan L/C yang bermasalah. Tidak ada yang penting (setidaknya menurut saya begitu).
Papa tidak pernah mengingat hari ulang tahun saya. Tidak pernah bertanya kabar saya, apakah saya bahagia atau tidak hidup tanpanya. Tidak pernah menemani saya mengambil amplop kelulusan. Tidak mengantarkan saya masuk kantor untuk yang pertama kalinya. Tidak sekalipun menelpon hanya untuk bertanya apa kabar selama 8 tahun belakangan. Bahkan tidak memberi kabar ketika mereka pindah rumah.

Well, terlepas dari semua itu, terlepas dari setiap pertengkaran dan saling lempar sindiran, satu hal yang saya ingat tentangnya adalah sebuah pertanyaannya yang begitu saya tunggu : "kamu, sudah makan belum?"
Ketika saya menginap dirumahnya, saat sudah terlalu larut dari kampus. Begitu pintu pagar dibuka, maka dia akan keluar dari kamar kerjanya, turun kebawah, melihat saya (dengan minus ekspresi tentu saja) dan bertanya "kamu, sudah makan belum?"
dan betapapun saya sudah kenyang dan terlalu malas makan selarut itu, saya akan tetap menjawab belum.
Karena saya tahu, ketika saya menjawab belum, maka dia akan menggotong tas kerjanya ke meja makan, menemani saya makan dalam diam sambil mencoret, menstabilo, dan menandatangani kertas-kertas sialan itu.
Satu perhatian kecilnya yang membuat pertengkaran dan kekecewaan menjadi tidak berarti.
Saya merindukannya akhir-akhir ini, tapi tetap saja tuan sok sibuk itu tidak mengangkat telepon saya.
Hmm...mungkin saya akan kerumahnya malam ini, dan jika beruntung mungkin saya bisa mendengarnya bertanya lagi "kamu, sudah makan belum?"

Jumat, 24 Juli 2009

Berkat Tuhanlah yang Menjadikan Kaya, Susah Payah Tidak akan Menambahkannya.

Saat putus asa melingkupiku, aku memilih tetap maju...
Saat aku tak paham maksud Tuhan, aku memilih percaya...
Saat aku tertekan oleh kekecewaan, aku memilih bersyukur...
Saat rencana hidupku berantakan, aku memilih berserah...
Saat aku ingin menghakimi orang, aku memilih mengamuni...

Diatas merupakan quote seorang teman yang ditulisin di status "bukumuka"nya beberapa waktu yang lalu. Namanya Yubelium Novri Koloay sodarah-sodarah. Sejujurnyah gw blom kenal baik ama ni orang, cuman gw sangat tertarik dengan quote diatas apalagi nambah denger cerita eni bapak.
Beberapa waktu yang lalu dia pernah kesaksian waktu kita-kita ngumpul buat komsel, ceritanya dia lagi kesulitan keuangan gitu, dan sekonyong-konyong JENG..JENG..JEEEEEEENG.... ada yang nransferin duit gitu (IYE DUIT, BUKAN DAON) ke rekeningnya dia dalam jumlah yang menurut laporan cukup banyak...duitduitduit


Semalem, waktu ujan turun rintik rantak, dan gw lagi berusaha ngerobohin kamar gw dengan genjrengan gitar gw yang acakadut, emak gw dateng. Pasang muka senyum-senyam yang menurut gw, lagi-lagi ngga enak.
"Taroh gitarnya" perintah si emak.
"Ogah." gw menolak dengan durhakanya.
Si mamah manyun. "Ih...mamah mau ngomong sama eta". Gw naroh gitar.

"Mamah perhatiin kog akhir-akhir ini kamu jelek sih?! (oh puji Tuhan sekarang emak gw bilang gw jelek) manyuuun gitu. Pulang kerja manyun. Bangun tidur manyun. Mau tidur manyun. Kalo ada masalah apa ya cerita sama mamah" Emak gw mulai melakukan orasinya (dikata emak gw demo jelir)

"Eta lagi bingung mah. Bentar lagi mau KKM. Blom lagi mau bayar semesteran. Duit eta udah abis buat pindahan ama daftar SMAnya dedek"

"Segitu doank??" emak gw nanya dengan ngga berprikemanusiaan.
"Segitu doank jadi dikaw uring-uringan nak? Yah kalo duit kuliah pasti ada lah. Tuhan kamu itu udah ngasi kamu kuliah ampe semester 6, masih aja kamu kuatir?? Selama ini kita dapet duitnya dari manah? Selama ini uang sayur, uang belanja, uang sekolah, uang rumah kita dapat dari mana? Pernah kah kita ngga makan? Mamah ngga pernah tuh takut suatu hari kita bakal tidur dijalanan, jadi gembel gitu, karena mama percaya Eta sama cece pasti ngga bakalan ngebiarin hal itu terjadi, karena Eta sama cece sayang sama kami. Itu iman mama sama kalian. Jadi imanmu sama Tuhanmu itu kemana nak???" emak gw angkat-angkat alis.

Shit. Lagi-lagi gw dibantai 1-0 ama emak gw (--")

Masalahnya, gw bukanlah seorang yang begitu religius seperti Yubel, sangat-sangat sulit rasanya mempercayai bakalan ada duit dateng dengan cuma-cuma ke gw, dan jujur sekali belakangan gw sangaeut-sangeut kuatir dengan beberapa hal kecil kayak gini. Tapi seperti kata mamah, kalo gw ngga percaya, dimana letak iman gw, begitu kan?

"Karena burung di udara saja Dia pelihara. Pasti yang namanya eta jauuuuh lebih berharga dari burung"

berikut nasehat terakhir sebelum si mamah nutup pintu kamar. Dan gw? well gw lebih memilih untuk mempercayai mamah gw yang hebat itu senyum

Senin, 11 Mei 2009

Which One You Call Bliss ??

i ask you...

which one you call bliss ??

1. Loving the person so much who doesn't in love with you

OR

2. Being loved so much by the person you are not in love with


Please answer me...

because i need to know,

because i don't understand

because i have to choose senyum




Rabu, 01 April 2009

Update Borongan

1. Banyak yang nanyain soal blognya si Nie yang katanya nge-hang kena virus. Udah gw tanyain ke empunya blog, katanya emang kena virus dan sedang dalam proses perbaikan, tapi kog gw bisa buka ya?? oh mungkin blognya si nie hanya bisa dibuka ama orang-orang imoet nan keren, ya salah satunya Tha ini hahaha.. *dilemparin sepatu blogger-emoticon.blogspot.com*

2. Dan yang ini khususnya buat para blogger yang kenal ama eneng yang satu ini..akhirnya tunangan juga, udah gw tunggu-tunggu tuh undangannya, eeeh barusan tadi buka FB, dapet. Cihuuyyy... i've told you cha, ramalan gw gag bakalan meleset setan
Buat Jed and Icha, congrats yaa peluk

3. Dan yang kemaren, ada yang nanyain gw kenapa isi potingan gw lagi mellow sengihnampakgigi, mohon maaph mood gw lagi up and down dari kemaren, jadi agak-agak berasa biru gituh (baca : feeling blue), tapi sekarang gw ngga feeling blue lagi donk, udah feeling green soale dah gajian blogger-emoticon.blogspot.com

4. Barusan gw mau pulang, didepan udah pada ribut sendiri, selidik punya selidik ada kunci customer yang ketinggalan diatas meja si Nie. Beginilah keadaannya :

(dikantor cuman sisa gw, Nie ama Rudy) hehehehe... hening (pandang-pandangan). hahahaha... hening (pandang-pandangan). Rudy : kayaknya bakalan ada yang ngga pulang nih buat nungguin si customer hening (pandang-pandangan lagi). HAHAHAHAHAHAHAHAHA... (ketawa pasrah)

dan perhatikanlah muka si Nie ketika menelpon si customer :
dering pertama .....


dering keempat...


dering ke delapan...




dan TIDAK DIANGKAT SODARA-SODARA !!!

Akhirnya si



(Rudy) dengan otak mafianya, mencetuskan ide "kita pulang aja dan ngelupain semuanya, anggap aja kita ngga pernah liat ada kunci setan"

Jadi, karena udah mendung, hampir ujan, dan pengen cepet (karena kami semua ini bukanlah karyawan teladanblogger-emoticon.blogspot.com, di putuskanlah bahwa ide si Rudy adalah ide gilang gemilang nan cemerlang.

5. Akhirnya kami pulang dengan suksessetansetansetan


PS : Dear pak Widodo, maaf tapi kami tidak menerima claim dalam bentuk apapun diluar jam kerja blogger-emoticon.blogspot.com

Happy weekend all, Jesus Bless Youcium

Jumat, 27 Maret 2009

Short Message Service

Dear..
i may not forget, not today, not tonight.
But with all my heart, i forgive you...

message sent :
22:49:41
27-03-2009
status:
delivered


There...said and done.
And i feel much better now, thanks God senyum


KASIH.... TIDAK MENYIMPAN KESALAHAN ORANG LAIN
1 Korintus 13 : 5