Tampilkan postingan dengan label Ah cinta.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ah cinta.... Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Oktober 2013

Quote

Somebody once said,
"Jangan bodoh karena cinta Tha, it takes you nowhere".

There he goes, bold as said.
Dan hari ini aku belajar.
Malam ini aku mengerti.
Biar tidak lagi-lagi patah hati.












Rabu, 03 Juli 2013

Di Ruang Tunggu Bandara




Not all the people in your life are meant to stay
-unknown-


Hujan turun deras sore ini. Percikannya menempias di tembok-tembok kaca. Membuatnya berkabut. Orang-orang berlalu lalang. Tak peduli satu sama lain, sibuk dengan dunianya sendiri.
Satu yang disudut kursi paling depan sedang mendengarkan lagu di ipodnya dengan mata tertutup.
Satu yang duduk di deretan kelima kursi sayap kiri sedang menyuap roti, mengganjal perut yang tidak mau diajak kompromi dengan jadwal penerbangan yang delay gila-gilaan.
Ruangan ini kelewat dingin. Dalam hati aku merutuki siapapun yang mengatur suhu ruangan ini menjadi begitu rendah. Jari-jariku mati rasa.
Aku benci hujan. Benci rintiknya yang berpacu dengan detak jarum arlojiku yang menambah gelisah. Aku benci menunggu. Apalagi menunggu ketika hujan mulai turun.

Aku selalu membenci ruang tunggu bandara. Seperti tiba-tiba kita terpisah, oleh sebuah tembok kaca. Dan kau sekonyong-konyong berdiri dalam dua dimensi yang berbeda. Yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Yang pergi dan yang menunggu. Seminggu, sebulan, sehari, setahun.

Sepuluh tahun yang lalu, di ruang tunggu bandara ini, kamu menggenggam tanganku. Erat. Seperti tidak mau lepas. Waktu itu aku yakin, dengan polos dan naifnya, bahwa kamu akan pulang. Suatu hari, entah pada hari apa.
Siang itu, pun hari hujan. Ingat kamu Ben?
Dan untuk pertama kalinya, saya bersyukur hujan turun. Bahwa diam-diam saya berdoa, jika hujan bisa membuatmu tinggal, maka hujanlah. Seminggu, setahun, bahkan sepuluh tahun pun jadilah.
Udara dingin yang dibawa hujan hari itu menambah sesak. Mati-matian kutahan air mata yang hampir jatuh. Aku ngga boleh nangis.
Karena Tiara adalah anak yang tegar dimata Ben. Karena Tiara tidak pernah menangis seperti anak perempuan cengeng lainnya.

"Ngga bisa ya Ben kalo kamu ngga pergi?" kataku lirih
"Ara, aku pasti pulang kok. Nanti kalau sudah lulus jadi dokter, kamu aku jemput ya?" Janjimu waktu itu. "Kamu kan tau, Ben ngga akan pernah bohong sama Ara". Tambahmu, mencoba menggombal dan gagal.
Aku diam.
Dan kemudian hujan reda.
Kali itu Ben, kubiarkan air mata itu lolos. Ketika tanganku kau lepas, dan perlahan kau berjalan pergi, keluar dari tembok kaca, seperti menuju sebuah dimensi yang lain, yang tak dapat kutembus.

Hari ini Ben, kembali kita berdua duduk di ruang tunggu bandara.
Keadaan berbalik. Kali ini saya yang pergi. Menyusul dia yang berpindah ke kota lain, sebuah kesepakatan yang kusetujui beberapa bulan lalu, sebelum kami menikah.
Kau bersikeras mengantarku dan jadilah kita berdua, seperti deja vu, duduk di kursi plastik ruangan luas dan berpendingin tak kenal ampun ini. Menjadi dua pesakitan gagu. Yang meninggalkan, yang ditinggalkan. Namun kali ini dengan peran yang berbeda, masih pada sebuah rasa yang sama.
Sesak dan dingin.
Dan kemudian, hujan reda.
"Kamu benar harus pergi Ara?" Tanyamu lirih. Tanganku kau genggam erat.
Saya mencoba tersenyum dan gagal.
"Maaf Ben, kali ini, saya ngga bisa janji kalo saya bakalan pulang".

Dan sekali lagi, kubiarkan air mata itu lolos. Ketika aku berjalan melewati tembok kaca.
Hari ini aku sadar Ben, bahwa kitalah yang terlalu polos kala itu. Bahwa kita terlalu naif memandang hidup, seperti dunia hanya cukup diisi dengan janji dan cinta.
Hari ini aku sadar, bahwa sebenarnya aku tak usah menunggu begitu lama untuk sebuah janji. Karena ketika pesawat udara itu membawamu pergi menembus awan, mungkin saja janji itu sudah luruh menjadi hujan. Dan seperti waktu, kamu dan aku pun akhirnya akan berlalu.

Benanda ngga akan pernah bohong sama Tiara.
Yes Ben, i agreed.
Tapi tolong ditambahkan, bahwa janji itu, mungkin saja datang ketika waktu sudah sangat terlambat.






Senin, 10 Juni 2013

Maret





Ben, tahun ini sepertinya maret datang terlambat.

Rupanya, batang-batang jagung itu tumbuh belum terlalu tinggi ketika saya datang.Dan pula, tanah masih belum begitu kering. Disinilah kita bermain dulu menangkap capung dan mengejar angin.
Siapa yang sangka, hari ini saya bisa begitu merindukan hari itu.
Merindukan kamu yang selalu memarahi saya yang datang terlambat, padahal katamu, kau sudah berteriak memanggil namaku berulang kali dari atas pohon jambu di depan rumahku.
"Anak perempuan memang begitu sih, lelet. Suka terlambat". Rajukmu selalu.

Dulu, kamu pintar sekali membuatkan mahkota dari lilitan ilalang di tepi jalan. Katamu itu adalah tiara. Dan kalau kita menikah nanti, tiara itu akan kamu gantikan yang asli. Kataku aku mau yang terbuat dari giok dan batu zamrud.
"Yang besaaaaar ya Ben" pintaku.
"Ya, nanti aku belikan yang besar".
Ben, sadarkah kamu dulu kita belum lagi genap sebelas tahun? Betapa polos dan naifnya kita.

Ben, siapa yang sangka, hari ini kita kembali berdiri berhadapan.
Kamu dengan kemeja dan jas rapi. Saya, dengan gaun kembang putih dan tiara. Kali ini tiara sungguhan Ben, meskipun bukan terbuat dari giok dan batu zamrud besar. Sebuah buket mawar putih di tangan, bukan lagi ilalang.
Kamu dan aku berdiri berhadapan, pada sisi yang berseberangan, dengan hati jumpalitan.
Dan demi sepotong masa lalu yang kembali membias, saya tersenyum.

"Siapa yang sangka kamu menikah duluan. Dulu katanya kamu mau tunggu aku?" Kelakarmu.
Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum. Lidahku tiba-tiba terasa kelu.
Dulu saya memang menunggu Ben. Cukup lama. Karena katamu kau pasti pulang, ketika ayahmu dipindahkan ke kota lain dan kalian ikut-ikutan diboyong pergi.
Lalu kemudian keadaan berubah Ben, kita menjadi dewasa. Dan janjimu, kemudian hanya bisa saya simpan rapat-rapat di sudut-sudut kotak pandora saya.

"Selamat ya. Yang bahagia, hidup bahagia sampai tua. Kawan masa kecilku yang cantik" katamu. Kemudian kau jabat tanganku. Lama.

Ya. Hidup yang bahagia juga ya Ben, sampai tua. Seperti janji kita dulu.
Sayangnya kali ini, adalah hidup yang akan kita jalani sendiri-sendiri.
Bukan lagi hidup kita.
Tapi hidup saya.
Hidup kamu.

Maaf Ben,
Untuk janji yang terlewati.
Karena mungkin kali ini, waktu sudah mulai menua,
Dan janji itu sudah habis umurnya.
Atau mungkin kali ini, kamulah yang datang terlambat.




Selasa, 07 Juni 2011

Day 2 - Cantik Betul



Setelah melihat arsip-arsip blog saya yang dulu, saya baru nyadar kalo dari bulan February saya cuman nge-post satu postingan tiap bulannya. Dibutuhkan satu bulan buat ngepost dari day 1 ke day 2. Maka menurut hemat saya, maka program 30 days of writing ini bakalan kelar dalam kurun waktu kurang lebih 30 bulan alias dua setengah taon wkwkwkwkwk..
Ah tapi biar deng, pan kata orang alon-alon asal kelakon.
Dan mari kita mulai, day 2. Talking about my crushed.
**********************************************************
Jadi saya pernah kenal, dengan seorang IT yang bertugas membuat program di perusahaan tempat saya bekerja dulu. Waktu itu saya baru lulus SMA, pertama kalinya saya bekerja. Lucky me, empat bulan setelah saya diterima, perusahaan memutuskan mengupgrade program penjualan yang lama menjadi lebih efektif. Dan disanalah saya bertemu dia.  Namanya simon, umurnya 20 something, otaknya encer dan senyumnya mematikan. Ngga ada yang bisa menarik saya lebih dari pada seorang yang berotak encer tapi ngga sombong, dan Simon? Jelas, dia memenuhi semua kriteria yang disebutkan. Ditambah bonus dia punya senyum cemerlang. Secemerlang sinar matahari pagi *preeeeeeeeet...*
Seminggu selang dia bolak-balik ke kantor saya, kami mulai terbiasa ngobrol-ngobrol ngga penting yang berujung “yuk-makan-siang-sama-sama”. Dia bertanya bagaimana rasanya pertama kali bekerja, menceritakan cerita-cerita lucu waktu dia mulai bekerja pertama kalinya, dan kami saling bertukar rahasia barang-barang norak apa yang pertama kali dibeli dengan gaji pertama. Minggu-minggu yang bikin mesem-mesem sebelum akhirnya saya menyadari, ketika dia dengan manisnya menopang dagu malas sambil tangan sebelah mencet-mencet tombol komputer dengan ngga jelas. Sebuah cincin putih berkilau-kilau di jari manis? Wait..wait.. jadi?? Darn!! He’s taken
Rasanya seperti jatuh dari tempat tidur ketika sedang bermimpi jadi bos gudang coklat ngga sih cyiiinnnn?
Jadi begitulah, karena saya dari kecil orangnya cerdas (baca : suka mau tau urusan orang) *ini kata mamah saya loh ya*, akhirnya dengan nekat saya tanyain juga “Koh, kokoh ini sudah married rupanya ya?” saya tanyakan lengkap dengan gaya sengaja ngelirik-ngelirik cincin di jari manisnya dia.
Dan kemudian dia jawab, dengan senyum khasnya “Oh iyaaa..saya belum cerita rupanya ya? Begini-begini anak saya sudah satu loh, namanya Celilla, persis mamanya cantik betul.”
What?? Apa tadi itu?? Persis seperti mamanya?? Cantik betul???
Really truly double preeeeeeett.
Sungguh bikin iri bukan kawan-kawan? Maka sejak itulah saya memutuskan, ceritanya berakhir sampai disitu. Naksir-naksiran 17 tahun saya, selesai ketika kalimatnya berakhir...cantik betul. 


PS : Sekedar informasi, kalo ada yang pengen tau seberapa cemerlang senyumnya simon, hampir mirip dengan senyumya kim bum. Apa ngga tau kim bum? Sok atuh searh di google, yang main film Boys Before Flower ituloh..sudah dapat? Nah..tau kan sekarang seberapa tinggi selera saya? 
*Pembaca serentak berseru : Preeeeeeeeeeeeeeeet...*

Senin, 09 Agustus 2010

Why Simson Loves Delilah ?



"Tapi dia udah punya pacar tha...hapenya isi foto cewenya semuaaaaaa..."
"Ya udah, lo jangan mau donk kalo gitu. Cari cowo lain yang available and adorable lain kayak ga bisa aja sik"
"Tapi gw maunya sama diaaaaaa...hiks hiks *ngisak-ngisak kuntilanak mode on*
Gw terjungkal kebelakang!

----

Orang jatuh cinta emang paling ngga bisa di omongin. Ya kan ?
Pernah jatuh cinta? Dengan orang yang salah? Pada waktu yang salah? Seperti Samson yang jatuh cinta pada Delilah? Atau dalam konteks nyata, ya seperti teman saya yang satu ini : jatuh cinta sama pacar orang. Haissshhh (--")
Kita sebut saja X. X masuk dalam kategori cewe populer-manis-cantik-otak-brillian. Berhasil mengencani cowo terkeren sekampus dan punya pekerjaan oke. Gaya oke. Muka oke. Rambut oke. Gigi oke. Pokoknya secara fisik X ini ngga akan masuk kategori "mati termehek-mehek karena pria".
Tapi..... sayangnya, X setahun belakangan ini, kata orang jawa unfortunately falling in lop sama Y. Ironisnya lagi, Y yang notabene pacar orang.

Mengapa orang jatuh cinta pada orang yang salah?
Mengapa kita tidak bisa menentukan kepada siapa kita seharusnya jatuh cinta?
Mengapa X harus jatuh cinta kepada Y ? bukannya kepada Z yang jelas-jelas naksir berat dengannya di kantor?
Dan mengapa Y malah mencintai pacarnya yang biasa? bukannya X yang cakep dan bergaya ala model-model ibukota?

Berapa kali kamu jatuh cinta ?
Berapa kali kamu akan jatuh untuk orang yang salah sampai akhirnya kamu bisa mencintai orang yang benar?
Akankah nanti kita menikah dengan orang yang benar?
Atau kita akan benar-benar menikahi orang yang salah hanya karena egoisme dalam diri kita menjerit-jerit mengatakan  hal itu benar?

Dan sekeras apapun saya berpikir, saya masih belum bisa menemukan jawabannya.
Setidaknya, tidak sekarang.
Seperti lyric sebait lagu yang akhir-akhir ini sering saya putar setiap pagi :

only heaven knows




Love,

Selasa, 11 Mei 2010

Teringat Kamu...


....It was destiny's game, for when love finally came on
I rushed in line only to find, that you were gone.
...

- beautiful girl, Jose Mari Chan-

Hari ini, tiba-tiba saya teringat kamu...
Jam dua siang, di kantor yang berisik dan langit yang mendung,
dengan sebatang coklat putih dan lagu yang saya dengarkan dari pagi tadi.

Hari ini, tiba-tiba saya teringat kamu...
Dengan udara basah yang sama, menuntun hujan bergegas datang. 

Hari ini, tiba-tiba saya teringat kamu...
Ketika saya menengadah dan sebulir hujan menyapu wajah, menetes turun.

Hari ini tiba-tiba saya teringat kamu,
dan cerita hujan di pantai yang berkabut.



Sabtu, 01 Mei 2010

Playboy???!!

Sini, duduk baik-baik dan dengarkan saya bercerita...
Cerita ini adalah tentang seorang teman, yang bolak balik menelepon dan mengirimi saya pesan singkat sejak seminggu lalu. Curhat sebutan gaulnya yah?

Kita sebut saja namanya A. A ini teman baik saya di kampus, temen nyontek bareng, temen bolos bareng, dan temen yang suka nyolong Gerry Chocolatos di tas saya. Secara fisik, tinggi, putih, dan berwajah lumayan, selera humornya sangat baik dan supel. Hal yang sangat menunjang doski menjadi playboy cap minyak angin di kampus.

Pernah denger cerita playboy nelangsa gara-gara jatuh cinta? Belum? Nah inilah dia...
Suatu hari, A jatuh cinta sama D. D yang mbak-mbak pekerja kantoran biasa, yang berpakaian kemeja longgar dan rok bunga-bunga, ngga ngeh ama yang namanya lipstick dan blush on, kurus dengan tungkai-tungkai yang panjang, sederhana dan apa adanya. Jauuuuh sekali dari prediksi kami tentang sosok wanita yang bisa membuat si A, playboy kampus kami, tergila-gila.

Sebagai sesama cewe, saya cukup menyukai D. D manis, rambut panjang dan suka tersenyum malu-malu. Baru belakangan ini saya tau,menurut pengakuan A, si D ternyata galaknya melebihi Nyai Roro Jonggreng (anyway saya mau nanya yang galak itu Nyai Roro Jonggreng ato Nyai Roro Kidul sih? oh whatever..). 
Suatu hari si A, tertangkap basah sedang mengantar temen kantornya pulang, D yang begitu cemburuan langsung murka, menampar si A berkali-kali dan minta putus.

A bingung, pusing tujuh keliling dan mati-matian ngga mau putus sama D. Dan mulailah minggu-minggu panjang menelepon saya, curhat dan meminta pendapat saya, seolah-olah saya gape bener dengan yang namanya cinta-cintaan. Dilihatnya saya ini seperti Mama Laurent versi dukun cinta.

jadi guys...saya harus bilang apa?

Kamis, 04 Maret 2010

Pertanyaannya adalah : Mengapa saya selalu kesulitan mencari judul posting ?





"Tuhan, jangan suka bercanda donk."

Begitu doa saya pagi tadi. Dan benar, saya suka ngerasa kalo Tuhan itu kelewat suka bercanda dengan hidup saya. Bahkan kadang becandaannya keterlaluan.
Mungkin menurutnya, saya adalah manusia dengan selera humor paling baik di muka bumi ini? mengalahkan Jim Carrey barangkali? Atau seperti yang selalu dipikirkan banyak orang tentang saya, bahwa saya adalah orang yang paling mudah dikerjai? sigh.

Saya pernah berdoa untuk sebuah liburan panjang ke jogja ketika selesai ujian akhir sekolah, dan Dia mengirim saya untuk bekerja pada sebuah perusahaan bahkan sebelum ijazah saya keluar. Dan saya sedang berkutat mencari selisih pada neraca ditangan saya ketika teman-teman seangkatan menelepon dari pantai, atau pusat perbelanjaan di negeri tetangga.

Saya pernah berdoa untuk sebuah universitas di Jakarta dengan jurusan fakultas sastra, dan benar beasiswa itu datang tanpa diminta. Tapi lagi-lagi keadaan mengharuskan saya untuk mengambil jurusan ekonomi sebuah universitas negeri di Pontianak. Lebih realistis, begitu katanya.

Saya pernah berdoa untuk pekerjaan menjadi guru TK dan tidak berkutat dengan tugas-tugas kantor dan lembur malam dan dia lagi-lagi mengirimkan sebuah pekerjaan yang baik, atasan yang menyenangkan dengan tugas-tugas dan kertas kerja yang sering mengharuskan saya lembur sampai malam.

Dan hari ini, Dia kembali menunjukkan selera humorNya yang kadang terasa berlebihan buat saya.
Satu kata kangen dan kurang lebih lima mililiter air mata yang membuat perasaan saya jadi tidak keruan sepagian ini. Tidak saya tidak sedang merindukan siapa-siapa. Dan bukan saya yang mengeluarkan kata kangen itu dari bibir saya. Bukan juga dia (well dia tidak pernah kangen pada saya, jika boleh saya tambahkan).
Dan ketika menuliskan ini sampailah saya pada sebuah pemikiran : resikomulah cuy!

Loving someone is a lot like gambling.
Jika cinta itu bersambut, maka rasanya bahagia, gegap gempita, bersuka ria seperti si Denny yang sudah mau married sama nona pipi merahnya.
Jika cinta itu ditolak, maka akan ada bergebung-gebung tissue bekas ingus dan air mata, curhat sampai tengah malam di telepon, dan makan pizza dengan membabi buta.

Dan hari ini saya ingin menjalaninya sampai saya menemukan titik akhirnya, kemanakah Dia yang empunya bercanda itu membawa saya.
Dan ketika menuliskan ini saya diingatkan satu kata olehNya :


kasih itu murah hati : ia tidak cemburu.


Baiklah...
Baiklah...
Stop bercandanya dan kirimkan saya sekotak besar pizza sekarang juga! sigh




Jumat, 12 Februari 2010

Selasa, 27 Oktober 2009

"Saya Sayang Kamu" Cukuplah.

Hari ini saya hanya ingin menuliskan sebuah kalimat yang sederhana.
Tidak lagi membuat perbandingan maupun metafora.
Tidak ada hujan maupun permainan warna sebagai lambang cinta.
Kamu tau kenapa?
Karena semalam saya melihat sebuah bintang jatuh digaris horizon.
Begitu cepatnya sampai saya tak lagi sempat menutup mata dan mengucapkan permintaan.
Meleleh menjadi cahaya kecil dan lenyap begitu saja.
Padahal kata ayah, bintang itu seharusnya sangat besar dan bersinar.
Tapi semalam saya melihatnya meleleh begitu saja.
Seperti es batu yang dilarutkan dalam segelas air panas. Sebentar saja sudah hilang.
Maka dari itu saya berpikir bahwa,
Jika saya terlalu banyak memikirkan kata indah untuk membuat kamu tersentuh, maka akan sangat lama.
Karena saya bukan seorang yang pandai dalam memilih kata.
Apalagi menyusunnya agar enak didengar telinga.
Jadi daripada kamu menunggu terlalu lama, dan akhirnya pergi meninggalkan saya
Maka saya katakan saja :

Saya

Sayang

Kamu

.





Sabtu, 24 Oktober 2009

Ah...cinta.




i love you as certain dark things are to be loved.
In secret, between the shadow and the soul.


-Pablo Neruda-



Selasa, 20 Oktober 2009

Pada Sebuah Per-empatan


Kamu tau kan perempatan?
Kata orang, hidup adalah selalu tentang sebuah perempatan. Tentang kapan harus terus berjalan, kapan harus berhenti dan kapan harus berbelok. Tapi tak pernah tentang berputar balik.
Dan disinilah aku berada, pada sebuah perempatan jalan.
Menyaksikan dalam diam para manusia yang terlalu sibuk mengambil keputusan, mensyukuri sebuah keputusan, menyesali keputusan bahkan mempertaruhkan sebuah masa depan.
Ya, pada sebuah perempatan.

----

"sudah hampir sore, sini berikan tanganmu, nanti kau terjatuh". Terdengar suara seorang pria, aku menoleh, mencari arah suara.

"Tak perlu" tolak si wanita, "pun sebentar lagi bulan datang, malam tak akan terlalu gelap"

"kau yakin? kerikil-kerikil itu akan tajam menusuk jka nanti kau terjatuh" bujuk si pria

Aku menunduk, menatap wajah wanita tersebut lekat-lekat. Sekilas kulihat dia tersenyum, samar. ragu-ragu. Lalu kemudian ia menggeleng

"Begini saja, kau lihat perempatan disana? Nah aku akan menunggumu disana. Jika nanti kau sampai dan lampunya berubah hijau, maka kita akan berjalan terus. Kugandeng tanganmu hingga ujung jalan ini" usul si pria.

"Dan jika lampunya berubah merah?" tanya wanita itu, masih ragu-ragu.

"kau boleh berbelok, jika kau menginginkannya..."

Kemudian si pria berjalan mendahuluinya.
Aku menemani wanita itu, bersiul-siul riang disampingnya.
Lima menit...
Sepuluh menit...
Dan sampailah kami di perempatan.
Pria itu berdiri disana, dengan sepatu keds berdebu, jeans biru dan oh ya tentu saja selalu ada daun akasia coklat yang gugur di awal oktober,
ku tengadahkan kepala, mecari lampu di sudut perempatan,
sedetik kemudian, kulihat lampu itu berkelip......

----

Ah, Malam sudah terlalu larut. Hanya bulan yang tertinggal separuh, berjingkat-jingkat dengan sepatu hitamnya yang berlumpur karena terhalang awan.
Tidurlah, mungkin besok akan kita temukan lagi kisah, tentang cinta yang tertinggal di sisi jalan...
Selamat malam.

Oh dan ya... lampunya berubah hijau by the way senyum.


xoxo,
si rumput hijau




because if you love someone, set them free.
If they come back to you, they are yours
If they don't, they never were
.....




NB : Begini boleh kan kak? kenyit


Sabtu, 10 Oktober 2009

Tentang Dia [....saat kemarau datang]


Mari sini, mendekatlah kepadaku.

Akan kuceritakan sebuah kisah,

Tentang tanah yang mulai merasa jatuh cinta kepada hujan,

Saat kemarau datang

............





Kamis, 10 September 2009

Pangeran untuk Cinderella




it's hard when you know you shouldn't hold on
and yet you are too in love to let go
......





Baginya, kamu selalu adalah gadis bergaun putih yang menentang hujan di sore september, dengan jepit rambut merah muda berbentuk hati dan senyuman polos tak peduli.
Baginya kamu selalu seperti tokoh wanita dalam buku-buku dongeng balita.
Bisa kau lihat dia berjengit ketika kau meneriakkan "damn it" waktu kukumu terjepit daun pintu,
dan ketika keringat membasahi wajahmu, menetes mengotori jaket jeans kumal yang sering kau gunakan ketika cuaca panas, ia menjauh. Enggan memeluk.
Dia tak bisa mengerti, bahwa kamu tak selalu menjadi gadis manis bergaun putih yang ditemuinya senja itu,
bahwa terkadang hidup mengharuskanmu memakai jeans kumal, karena gaun akan menghambat larimu.

Dan hari ini kamu menangis di depanku. menangisi apa yang kalian sebut cinta, yang keburu menghilang ketika disadarinya kamu bukan puteri dongeng andalusia.

"Dia pergi." Suaramu rapuh. Air matamu jatuh pada secangkir teh berwarna emas. Secangkir teh hangat yang terlanjur dingin ketika hari bahkan belum separuh siang.

"Biarlah. Toh kau tak bisa terus-terusan menjadi puteri dongengnya" jawabku.

"Aku merasa seperti cinderella", isakmu. "Waktu pertama kali dia melihatku, akulah si cantik di matanya, sebelum akhirnya tengah malam tiba dan aku harus kembali menentang nasib, menjadi upik abu. Lama ku tunggu tak juga ia datang mencocokkan sepatu kaca."

...................................................................

......................................................

.....................................

...............






"berarti, bukan dia pangerannya...."





Jumat, 04 September 2009

And Then...


.........................

"I don't have the strength to stay away from you anymore," Said Edward

"then don't."




twilight - stephanie meyer