Senin, 06 Februari 2023

Tentang Lodtunduh, Marigold dan Mimpi



Dersik pagi ini datang menghampar kenangan yang bercampur kabut yang mulai melarut.
Kenangan tentang sebuah kisah yang tersembunyi di sudut-sudut kecil kampung Lodtunduh.
Kisah yang telah ku simpan baik dalam larik terdalam kepalaku.
Kisah tentang sang pelukis dan si gadis pemimpi.
Sang pelukis yang melukis mimpi yang membentang di pelataran pelataran pura,
Mimpi seindah bunga gemitir kuning yang menghampar di lembah hijau berbunga.

Hari ini, si gadis pemimpi kembali datang.
Menyusuri jalan setapak lodtunduh yang membisikkan kisah.
Ditelusurinya kembali jejak yang pernah tertapak dengan bahagia yang mulai menua.

Kisah itu telah lama selesai.
Serupa awan yang berusaha memeluk hujan yang pada akhirnya tetap luruh sebelum bunga alamanda pagi mekar.
Dia hanya datang mencari sepotong hati yang masih tertinggal.
Mungkin ada di antara bukit bukit bunga gemitir yang berjajar rapi,
Atau mungkin, tertinggal pada kabut tipis yang turun perlahan di lembah hati.
Lembah kintamani...


Dear Me,




What if someday God told you that you could flip over the time once?
Where will you go?
Which regret will you fix?

If only i could write a letter to a 17 years old me,
First i'd like to tell you, don't be too harsh on mom.
She's right, your ex is totally a jerk. 
No matter how much you've fell for him, he will ended up cheating on you.

Second, you have to know, it's okay to slowed down and taking a step back.
You don't have to carry all of this family up on your shoulder.
You are just a kid.
You are just a sister.
It is okay to go travelling instead of paying for the bills if you wanted to.
It is okay to think of you sometimes, instead of anyone else,
So that someday you will not regret your youth.

Third, i'm sorry you can't be a surgeon.
I'm sorry we can't afford it.
You may not understand now, but you will find out later
that hugging your three kids is way more mesmerizing than holding a scalpel.

Then i'm going to tell you i'm sorry.
Sorry because you feeling alone 
Sorry because you have to fake your smile all the time.
Sorry because you think you have to prove yourself hard to get loved.
Sorry for the love you find it hard to get even from me, myself.

Last i'll tell you don't you worry with your future.
marriage is not that bad tho.
Your spouse wonderful and you'll have a heartwarming family.
Get up!
Chin up!
You are loved :)





Candramawa

Jangan ajari aku caranya mengalah,
Sudah ku habiskan separuh hidupku untuk mematri bahagiamu dengan tanganku hingga membiru.
Dan pada akhirnya kenapa hanya tinggal aku sendiri? 
Dingin. Hampir beku. Kamu, di mana?

Jangan ajari aku caranya bersyukur.
Nyatanya telah ku lewati malam-malam panjang dengan doa.
Beribu ribu pagi ku buka dengan lutut bertekuk karena dengan begitu kakiku memiliki keberanian untuk berdiri tegak.

Jangan ajari aku caranya memaafkan.
Kau tak tau susahku.
Bukannya luka ini awalnya ditorehkan oleh dia yang seharusnya mengajariku bahagia?
Nyatanya pelajaran terbesar yang diberikannya hanya cara berpura pura.

Pergilah.
Jangan urus bahagiaku.
Sudah ku bilang kau dan bahagiamu takkan memahaminya.






Rabu, 13 Oktober 2021

It Still Matter

Dear Heart...

If it's still hurt,

Means it still matter.

Means you should text him first.

Means you have to forgive.

Means you have to forget.

Means you should have to do it all so you won't regret someday.

Means you still love him.


Admit it.

 

 

 

Selasa, 20 Juli 2021

Kurinto (Seorang Anak Tanpa Nama)

Tulisan ini ditujukan untuk Abang.

Abang. Begitu aku memanggilnya. Anak kecil berusia 8 tahun yang tutur bahasanya lebih dewasa dari umurnya .

Abang yang namanya jarang disebut orang.

Abang yang dikenal sebagai anak haram dari seorang pelacur yang diasuh oleh mucikarinya.

Abang sering dipanggil "Ei" oleh mereka yang dengan pendidikan tingginya bahkan tak mampu mengeja.

Abang, yang bahagianya adalah dengan mobil-mobilan yang dirakitnya dari kardus obat yang di ambil dari tumpukan sampah pemilik apotik disamping rumah bordil yang didiaminya.

Abang, yang jarang ingin membicarakan isi hatinya ketika kutanya.

Abang, yang pandangan matanya tak pernah terlupa.

Abang, yang tiba-tiba diminta oleh surga bahkan tanpa bertanya.

Selamat jalan abang, ketahuilah bahwa kau takkan terlupa. Setidaknya oleh seorang yang kini menuliskan namamu pada baris yang mungkin tak terbaca.








Rabu, 27 Maret 2019

Si Pemilik Topi Putih Tua



Sini, duduklah dekat-dekat
Hari ini kuceritakan padamu tentang dia,
Seorang pria yang pernah tinggal dan baru saja berlalu pergi.
Dia yang sejak dulu kuperjuangkan senyumnya. Dan kujaga tapak langkahnya.
Sebagaimana dia dulu menjagaku, meskpun dengan diamnya.

Sini duduklah dekat-dekat
Ambillah barang beberapa bongkah batu yang sedari tadi menghimpit hatiku
Membuat nafasku sesak dan mataku lalu sembap.
Karena pria yang kuceritakan tadi rupanya benar-benar pergi.
Tak bisa kulihat lagi kerutan mata karena senyumnya.

Pria tua yang selalu memakai topi putih.
Kemanapun dia melangkah, Apapun setelannya.
Topi itu tak pernah lupa
Oh ya, dan sepeda ontel kesayangannya, yang tak pernah berhasil kukendarai.

Ingatanku tentangnya, lamat-lamat mulai memudar,

Tentang dongeng-dongeng di malam hujan. Dengan bahasa ibunya yang sebenarnya jarang bisa kupahami. Tapi aku bertahan, karena dulu rupanya kelambu tua yang dipasangnya sangat menarik hati. Seperti bermain kemah-kemahan kala itu.

Tentang rotan dan lidi yang disesahkan ke kakiku. Dari situ aku belajar bertutur hormat dan sopan.

Tentang hardikan keras dan pelototan tajam matanya, mengajarkanku tentang harga diri seorang wanita yang berulang kali diingatkannya harus kupegang teguh sepanjang usia.

Tentang malam-malam dia menyetrikakan seragam sekolahku dan menungguku pulang kuliah. Dan senyum bangganya ketika melihatku menggunakan toga.

Aku menuliskan ini tentangnya, agar aku tak lupa. Kesayangku yang kujaga sepanjang usia.
Yang katanya, aku cucu kebanggannya.
Terima kasih, untuk pernah singgah...





Rabu, 26 September 2018

Kamu, kapan pulang?






Aku ingin waktu berjalan pelan...
Karena hidup diburu rindu,
sudah terlalu melelahkan.
.....





Sumber : @yangterdalam




Rabu, 18 April 2018

H U J A N


Hujan mengingatkanku pada engkau
Pada sekelumit warna-warna terang di antara mega,
Kau selalu disana, membentangkan tanganmu lebar-lebar dibawah rinai hujan
Menyunggingkan senyum tipis dari bibirmu yang merah jambu

Hujan pagi ini membuatku terkenang
Pada gerimis pagi di bulan january
Hari itu hujan tak lagi terasa indah, titik cair yang turun perlahan seperti bisu
membuat gigil ketika tersentuh
Kau diam.
Tangan kita saling mengenggam, entah apa yang kau coba genggam
mungkinkah kau mencoba mempertahankan sebuah cerita?
cerita yang harus selesai padahal kita belum menginginkannya?

Entahlah, yang jelas gerimis pagi ini, kau tak ada disana
Kutelusuri bulir air yang mengalir perlahan, sebelum menghentak jatuh ke tanah
melesak dan membawa seribu kisah
Suatu ketika, kami pernah saling jatuh cinta

Sabtu, 14 April 2018

Sebuah Jam Weker








Dear Tiara,


Malam ini lagi-lagi aku terdampar ke masa lalu. Atas apa yang kutemukan siang ini di pusat perbelanjaan yang tadi ku kunjungi dengan tidak sengaja.

Sebuah jam weker.

Iya. Itu.

Aku ingat dulu ayah pernah membelikanku sebuah jam weker. Karena anaknya yang paling manja ini rupanya sulit untuk dibangunkan. Sebuah jam weker tua, berwarna emas dengan bunyi yang dapat membangunkan tetangga tiga blok jauhnya.
Dulu aku tidak sesenang itu. Dan bagiku itu hanyalah jam weker bukan Tiara?
Apalah yang menarik dari sebuah jam weker bagi anak berumur enam tahun kala itu?
Tapi kau tau, seperti aku mengetahuinya dengan jelas, bahwa penyelasan selalu datang belakangan. Jika saja aku tau jam weker itu akan menjadi hadiah terakhir yang ayah berikan, mungkin tak akan kusimpan dia di atas lemari tua reyot itu. Dan tak akan jatuh pecah kacanya ketika lemari reyot itu bergetar karena deringnya.

Tiara,
Bolehkah kau tanyakan padanya apa yang ada didalam pikirannya saat meninggalkanku?
Atau bisakah kau memintanya mengembalikan sedikit saja perasaan kala ayah pulang dengan muka bangga dan menyerahkan jam weker tua yang dibelinya dengan sisa-sisa uangnya malam itu?

Sehingga malam ini aku tak perlu kembali terhanyut oleh rasa,
Yang dibawa karena sebuah jam weker model antik yang akhirnya sekarang berdiri hening dihadapanku.
Tanpa rasa.
Yang deringnya membangunkan kenangan masa lalu
Yang kubeli, atas nama rindu.












Minggu, 16 November 2014

Kepada Tiara.



Tiara,
Mengapa seolah-olah hidup tidak pernah berpihak pada kita?
Bahkan hujan yang kuharapkan turun senja ini tak kunjung datang, hanya tinggal menyapa awan yang menggelar mendung menutup jingga.
Demi apa?
Aku tau terkadang kau merindukannya Tiara, sama seperti aku.
Tapi hidup mungkin tak menggariskan namamu dan namanya pada satu bait yang sama.
Mungkin memang bukan tulang rusuknya yang dipakai untuk memahat setiap inci pori dirimu.

Tiara,
Bukankah kita bahagia?
Karena akhirnya pada satu titik kita menemukan orang yang mencintai kita sampai jungkir balik?
Lalu mengapa masih kau simpan rapat-rapat air mata itu disudut-sudut kampung Lodtunduh?
Ku lihat masih kau simpan lekat-lekat suaran petikan gitar dibalik dinding rumah bambu itu.
Atas dasar apa?
Ah, ya. Aku terlupa
Atas nama cinta, yang dari dulu punya sebuah nama : Ben.





Rabu, 25 Desember 2013

Finally Christmas


Dear Jesus
Happy birthday :)
thank you for You have guide me through my days,
I have nothing good enough to give you as a gift
So here i am, with all my bruises heart,
A little bit broken but has been well repaired,
Saying to you..
Dear God, with all my heart i do really love you.


Finally, it's christmas, people
Hang on your shocks,
Write down your wish,
Prepare the cookies and milk.
Because maybe Santa will pass by, no?
Sleep earlier,
Be good,




Senin, 18 November 2013

Air Putih





Tidak ada yang muluk dari segelas air putih
Tetapi engkau mempertanyakannya, seperti putri yang minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.
-Dee, Curhat buat sahabat-

*********

Hari ini saya mendapatkan sebuah pesan singkat. Dari seorang kawan lama, yang dulu pernah menjadi sahabat karib.
Dia akan menikah. Januari tahun depan. Begitu bunyinya.
Setelah berpacaran tujuh tahun, pernikahan akan digelar.
Saya senang, karena dia senang.
Sang calon suami, tidak begitu saya kenal, hanya tau sepintas lalu.
Lagipula, siapa yang perlu tau, peduli apa tanggapan orang jika sang empunya gelar "istri" sudah bilang cinta.
Cinta yang katanya mampu membangunkan seribu candi dalam semalam.
Cinta yang katanya mampu mengubah rasa kotoran sapi menjadi coklat cadbury.
Benarkah?

Satu ketika, saya juga pernah punya mimpi yang saya lukiskan pada kanvas yang salah.
Saya menjejakkan kaki pada tanah yang belum rata.
Dan kemudian saya terjatuh.
Jatuh yang membuat saya sadar, bahwa mimpi itu salah jika mengorbankan perasaan
Jatuh yang membuat saya sadar, bahwa mimpi itu salah jika tidak ada sukacita
Jatuh yang membuat saya sadar, bahwa selama saya bermimpi, saya telah menutup dunia saya rapat-rapat dan hanya menatap ke sebuah titik yang saya pikir dulunya ingin saya gapai.
Sebegitu fokusnya saya ingin menggapai mimpi itu sehingga pada saat saya sadar, saya menemukan bahwa saya sudah babak belur.
Bahwa mimpi yang tercapai itu tidak imbang dengan apa yang sudah saya lepaskan.

Hari ini, saya berdiri dengan kaki yang lebih mantap.
Dengan mimpi yang tidak lagi muluk-muluk.
Tidak perlu lah seribu candi dalam semalam.
Tak usah mengubah apapun menjadi coklat cadbury isi almond kesukaan saya.
Cukup sebuah cinta yang mengerti bahwa bahagia itu adalah sebuah harga mahal yang belum tentu mampu dibeli semua orang. Tidak dengan dengan kekuasaan, tidak dengan uang, tidak dengan kesombongan.
Bahwa bahagia adalah sebuah rasa yang dibeli dengan ketulusan dan penerimaan, dalam sakit sehat senang dan susah.
Sebuah cinta yang tidak muluk tapi nyata.

Dan pada suatu hari, jika saya sudah menemukannya, maka akan saya belajar menggantungkan lagi. Sebuah mimpi. Yang kali ini akan lebih dewasa. Yang kali ini akan lebih realistis.
Karena akhirnya saya paham, bahwa kebahagiaan saya, adalah tanggung jawab saya. Tidak bergantung kepada siapa-siapa.
Tidak ada yang sanggup memberikannya.
Bahwa kebahagiaan itu dicipta, bukan diminta.
Dan jika bahagia ada, maka disitulah cinta.


*****

"Suatu hari Tha, elo bakalan ketemu orang yang bener-bener jatuh cinta sama elo, jungkir balik. Surga neraka. Langit bumi. Lahir batin".

Yes jo, i will :)






Senin, 04 November 2013

Lady Rain



"Kamu inget, pertama kali kita kesini, hujan turun persis dijalan ini.
Kedua kalinya kita kesini, hujan turun lagi.
Padahal sebelum-sebelumnya aku dateng kesini, ngga pernah kehujanan.
Kamu tuh kayak pemanggil hujan, tau ngga sih"
and then, he smiled.

Rasanya seperti deja vu.
Mendengar kalimat yang sama mengulang dari bibir yang berbeda.
Lady rain.
Begitu julukan yang dulu sering kau ucapkan untuk menggodaku.
Dan untuk sepotong nama dan beberapa rintik hujan itulah hari ini aku mengingat tentangmu.
Kamu yang sekarang lamat-lamat kuingat dengan sakit hati dan benci yang menggumpal seperti racun.
Tapi hari ini, ketika kalimat itu diucapkan, atas nama kenangan,
Ku biarkan sakit hati itu meluntur tersapu hujan.
Melarut dengan debu jalan yang selama ini terbiarkan menggersang.
Mungkin belum dimaafkan,
Mungkin belum terlupakan,
Tapi hari ini, kubiarkan namamu berlalu.

"Ayo kita pulang"
"Masih hujan"
"Sebentar lagi juga hujan berhenti, ayo jalan saja"
"Yakin?"
"Percaya sama aku?"
"...ya :)"
Dan sepanjang perjalanan itu, hujan berhenti





Something about blue







He likes blue sky,
His sky was me
Then someday i realize, that i'm not his sky anymore
And i'm feeling so blue at the moment
.....


Suddenly remember this quote from Christian Simamora.
One of my favorite book. Lost it when i moved to our new house five years ago.
*Sigh*


Selasa, 29 Oktober 2013

Surat kepada Sang Ballerina





Tiara,
Pernahkah kamu merasa begitu mencintai seseorang?
Pernahkah pada suatu waktu, ada seseorang yang pernah menjadi poros duniamu?
Dan ketika harapanmu sedang membumbung tinggi,
Ketika mimpi sudah dibekukan dalam botol-botol kristal,
Tiba-tiba saja dia pergi.
Seperti uap yang menguar dari teko panas.
Mengepul, lalu melebur.

Tiara,
Saat ini aku sedang menghitung,
Satu per satu mereka yang sedang beranjak pergi,
Pergi jauh-jauh, karena duniaku sedang keruh.
Sedikit sekali yang ku temukan bersisa.
Mungkin kau salah satunya, karena itulah satu-satunya alasan aku menuliskan surat ini kepadamu.

Tiara,
Aku ingin pergi.
Rasanya seperti aku sudah siap mengepak koperku dan menyeretnya kemana pun.
Tempat dimana matahari bersinar lebih lama daripada disini yang mendung dan berangin.
Tapi lagi-lagi alasan itu memintaku untuk tinggal.
Tinggal untuk dia yang masih ingin kupanggil cinta.
Menunggu sedikit lebih lama.
Entah untuk apa.
Mungkin sebagai pembuktian, 
mungkin sebagai penantian, 
mungkin menunggu penyesalan.
Hingga akhirnya nanti rasa itu hilang,
digerus hujan kuatir dan gelisah yang bergantung resah di ujung rasa.









Selasa, 22 Oktober 2013

Merah



Menuliskan tentang dia adalah seperti menuliskan merah di ufuk senja.
Kabur tertutup jingga.
Aku mengenalnya beberapa lama.
Perempuan yang berdiri dibalik tirai jendela itu.
Perempuan dengan wajah tirus dan hati yang keras.
Yang dulu, selalu berdiri paling depan dan berteriak paling lantang.
Dan dari dulu saya adalah pengamat setianya.
Penonton yang mengamati, lalu menuliskannya.
Tentang dia.
Tentang merah.
Dulu perempuan itu seperti merah.
Menyala dan berani.

Rupanya sekarang merah itu memudar menjadi jingga.
Seperti senja
Tertutup tirai di balik jendela.
Lama saya berdiri di sudut jalan.
Menatap perempuan itu, mengharap dia menyibak tirai jendela.
Tapi dia bergeming.
Hanya merenung dan menatap jauh.
Kepada senja.
Kepada merah.
Yang kabur tertutup jingga.



Selasa, 15 Oktober 2013

Quote

Somebody once said,
"Jangan bodoh karena cinta Tha, it takes you nowhere".

There he goes, bold as said.
Dan hari ini aku belajar.
Malam ini aku mengerti.
Biar tidak lagi-lagi patah hati.












Rabu, 02 Oktober 2013

The Answer


You asking me why,
"Because you're not man enough to be my man"
I said.




The one you're not deserve to have,

Sabtu, 21 September 2013

Dua puluh satu



Malam ini, resmi menjadi malam ke dua puluh satu ketika aku mulai merindukanmu.
Minggu ketiga.
Jam ke lima ratus empat.

Kamu, apa kabarnya disana?
Masihkah menyimpan rasa yang ku titipkan hari kemarin?
Seperti ketika aku menguraikan rindu yang kau kirimkan lewat hujan sore ini.

Kemana kita harus pergi?
Membawa-bawa belanga, menampung hujan di ujung jalan.
Menadah bahagia yang dulu pernah sama-sama kita kejar ke ujung dunia.
Sekarang, ketika rupanya jalannya putus arah.
Jembatan rupanya tak cukup mengantung egoisme dan gengsi beratasnama keluarga.
Lalu kau dan aku berdiri di dua kutub yang berbeda.

Dua puluh satu.
Dan mungkin aku harus berhenti.
Karena waktu mulai membawaku berlari.
23.45
Lima belas menit lagi, dan angka akan membawaku pada hitungan ke dua puluh dua.
Ceritanya sudah lama berlalu.
Epilognya sudah selesai dibacakan.
Berakhir pada hitungan ke dua puluh satu.

-----------

23.47





Jumat, 20 September 2013